Proses Social Media Management dari Hulu Hingga ke Hilir

Bukan sekadar membuat konten tepat sasaran, merencanakan waktu unggah merupakan strategi dasar Social Media Management.

Salah satu pengalaman menarik di B/NDL Studios adalah saat menangani klien AIS Forum. Archipelagic & Island States Forum (AIS Forum) adalah forum yang berdiri di bawah naungan United Nations Development Programme (UNDP). AIS Forum menjadi wadah untuk seluruh negara-negara kepulauan di dunia yang peduli pada masalah global khususnya perubahan iklim dan hal-hal yang memengaruhi kelangsungan kelautan. Marine issues sangat beragam, dan AIS Forum berupaya mencari solusi bagi masalah-masalah tersebut. Aktivitas AIS Forum sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, terutama Sustainable Development Goal 14 (SDG 14) mengenai konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan dari samudra, laut, dan sumber daya kelautan untuk pembangunan berkelanjutan.

Berani mengambil kesempatan, berani menerima tantangan

Setiap tahun AIS Forum menyelenggarakan Ministerial Meeting dan Senior Meeting bagi seluruh negara anggota. Allendra, Xperience Consultant di B/NDL Studios, berhasil mendapatkan kontrak dari AIS Forum untuk tiga projek terkait dua pertemuan internasional tersebut. Creative Studio mengerjakan Progress Report dan Work Plan AIS Forum 2020, sedangkan Content Studio mengerjakan social media management, tentu dibantu Bayu, Digital Marketing Specialist B/NDL Studios.

Discovery is everything

Social media management yang dibutuhkan AIS Forum tahun 2020 adalah mengisi Instagram, Facebook, LinkedIn, dan Twitter. Seperti biasa, kami memulai pekerjaan dengan discovery process.

Apa yang dibutuhkan klien? Apa yang ingin ditampilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut? Brainstorming ini berlangsung penuh semangat. Agar lebih paham dengan konten terkait kelautan, bersama-sama kami menonton beberapa episode National Geographic yang khusus membahas biota laut.

Ternyata, ada ikan yang bisa berganti kelamin. Lalu, ada sekelompok masyarakat yang tinggal nomaden di laut, hingga disebut Gypsi Sea. Dan, karena mereka sering sekali menyelam tanpa alat selam modern, ukuran limpa mereka lebih besar ketimbang manusia lain. Wow! Ternyata banyak fakta menarik tentang laut dan kehidupannya yang selama ini luput dari radar saya.

Discovery process juga membawa kami pada konsep ocean sustainability future. Nah, untuk membuat audiens lebih memahami marine issues, harus ada edukasi sedemikian rupa agar audiens terlibat pada isu kelautan. Karena laut sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang biru, diputuskan bahwa kami akan menggunakan kata “blue” untuk menandai semua posting di media sosial. Inilah ide awal menggunakan tema Shades of Blue sebagai payung besar seluruh konten AIS Forum yang kami kerjakan. Erika, Project Support Officer segera memasukkan tema ini dalam Scope of Work (SoW) yang berfungsi sebagai peta untuk proses produksi Content Studio dan Creative Studio.

Dalam SoW juga tercantum target kerja atau objectives yang diinginkan klien, yaitu meningkatkan awareness dan engagement media sosial. Seluruh produk menggunakan Bahasa Inggris, mengakomodasi sasaran pembaca yaitu audiens dari berbagai negara di dunia.

Perencanaan konten sosial media

Yang tidak boleh dilupakan adalah ketertiban atas jadwal. Dalam seminggu, harus ada posts baru tiap hari, Senin hingga Sabtu. Harus ada jadwal yang jelas dan tidak boleh terlewat perihal pengajuan tema, waktu pengerjaan, masa approval, hingga waktu posting.

Kami sangat terbantu oleh Google Drive. Erika telah membuat working table yang bisa diakses oleh tim Content Studio dan tim Art and Design. Working table ini memuat semua kewajiban tim, dari mulai tema konten, visual yang hendak ditampilkan, hingga jadwal tayangnya, dan nama yang bertugas menyelesaikan.

Tema konten ditentukan di awal minggu, disesuaikan dengan kegiatan AIS Forum, atau aneka topik terkait kelautan yang sedang menjadi perbincangan di negara-negara anggota AIS Forum. Bisa juga tentang penemuan-penemuan yang berhubungan dengan ocean sustainability. Tema besar Shades of Blue diturunkan menjadi beberapa tagar. #Iloveblue untuk segala hal mengenai turisme, #bluewonder yang membicarakan keajaiban alam laut, #bluebounty jika mengulas hasil alam, #bluenotes untuk topik yang berhubungan dengan penemuan atau inisiatif, #feelingblue jika membahas sampah di laut, #bluelife ketika topik masyarakat laut mengemuka, #bluealert saat menampilkan potensi bencana, lalu #bluecurrency untuk semua tulisan yang membahas ekonomi kelautan.

Posting tidak melulu berupa tulisan narasi. Tim konten menyelipkan kuis yang lumayan jitu menaikkan audience engagement. Salah satu kuis mewakili #Iloveblue, mengajak audiens menebak judul film yang lokasi shooting-nya di negara kelautan. Menarik, kan?

Menulis caption untuk media sosial

Meski telah berpengalaman menulis artikel-artikel majalah, Tim Content Studio mengakui bahwa membuat caption media sosial ini memaksa mereka belajar hal baru lagi. Acith, Content Writer akan bolak-balik bertanya di grup whatsapp atau langsung menemui Maggie, Co- Founder & Chief Creative Officer B/NDL Studios, agar gaya bahasa dan pilihan kata yang dia gunakan tidak meleset. Ya begitulah, menulis caption tidak semudah yang terlihat!

Caption media sosial relatif singkat, namun tetap harus memenuhi kaidah penulisan baku. Topik harus jelas, harus ada pengantar, isi, dan penutup. Keterbatasan karakter menjadi tantangan tersendiri. Maggie tak bosan-bosan mengingatkan agar para penulis cermat menentukan set-up, story, dan pay off dalam tulisan mereka agar informasi tersampaikan secara efektif juga menarik. Apa sih, itu?

Set-up

Tahap menentukan problem atau masalah pada topik yang ingin disampaikan. Berfungsi sebagai ‘beranda’nya sebuah caption. Ada pengenalannya terlebih dahulu sebelum masuk pada inti.

Story

Penjelasan secara detail tentang topik. How we define the problem, inti masalah dan dampaknya.

Payoff

Pada akhir penulisan, harus ada solusi. Tulisan tidak boleh menggantung atau menimbulkan pertanyaan yang tak terjawab.

Ilustrasi juga punya peran kunci

Setelah caption selesai, kami akan bersama-sama memilih visual yang paling cocok dan pas untuk tiap posts. Karena semua teks sudah dimasukkan ke working table, Budhi, Art & Design Partner bisa menyediakan pilihan foto yang sesuai. Foto yang terpilih biasanya yang dramatis. Artinya, foto harus sesuai objeknya, memancing emosi sekaligus membuat mood lebih baik. Foto dramatis akan menarik pembaca. However, humans are visual beings, so we try to attract their attentions with pictures.

Yuk mengatur jadwal posting agar sesuai target

Berdasarkan insight dari Sprout Social, engagement di Instagram paling sering terjadi pada hari Senin sampai Jumat di antara pukul 9 pagi hingga pukul 4 siang. Harus dilakukan tes dengan memuat konten di waktu tersebut, kemudian posting ini dievaluasi dari sisi performance. Dengan mempelajari best practice semacam itu, kami bisa mengukur tipe konten dan waktu posting yang paling sesuai untuk audience dari akun Instagram AIS Forum.

Bayu bertanggung jawab melakukan scheduling agar konten dapat tersampaikan sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Pemilihan waktu posting ini merupakan salah satu taktik social media optimization, tergantung dari audience behavior di masing-masing kanal media sosial. Mempelajari perilaku pembaca sebelum posting bertujuan untuk memaksimalkan peluang menjangkau audiens seluas mungkin. Jangkauan inilah yang akan meningkatkan awareness dan engagement dari target audiens.

The results after 45 days….

Kami bekerja untuk AIS Forum selama 15 Oktober hingga 30 November 2020. Total, kami membuat 179 posts dalam 45 hari. Masing-masing 14 posts untuk Facebook; Instagram 58 posts; Linkedin 17 posts; dan Twitter 90 posts.

Untuk mengetahui apakah objectives pekerjaan tercapai, Bayu mengukur performance dari masing-masing kanal media sosial, lalu membandingkannya dengan performance di periode sebelumnya (1 September hingga 14 Oktober 2020).

Hasilnya, awareness di Instagram mengalami kenaikan sebesar 490.91% dan untuk Twitter naik sebesar 66.59%. Engagement rate juga naik, Instagram menjadi 9.27%, dan Twitter menjadi 4,44%. Organic followers di empat kanal media sosial AIS Forum juga mengalami kenaikan. Masing-masing 73,53% untuk Facebook, 27,12% untuk Linkedin, 19,44% untuk Twitter, dan 16,94 untuk Instagram. Keseluruhan hasil tersebut adalah untuk organic performance, alias tanpa iklan.

It’s a wrap!

Projek ini ditutup dengan Erika, Allendra, dan Bayu melakukan evaluation meeting bersama klien. Kami gembira ketika mendengar hasil meeting adalah kepuasan klien. Thank God! Mereka bahkan mengatakan akan menjadikan posting hasil karya B/NDL Studios sebagai standard post mereka berikutnya. Tagar-tagar juga akan terus dipergunakan untuk campaign berikutnya. Sungguh membanggakan!

“Wah, berakhir juga ya 45 hari naik roller coaster,” kata Bubu, Content Partner B/NDL Studios.

Ternyata membuat konten untuk media sosial perlu proses yang cukup panjang. Social Media Management sangat dibutuhkan agar proses dari hulu ke hilir selaras dan tepat sasaran

“Hahaha… bener banget, 45 hari yang seperti ada adrenaline rush. Tiap hari deadlines!” cetus Acith.

Tiba-tiba saya ingat lagi masa-masa WFH yang bagai diisi meeting tiada henti untuk projek ini. Karena lelah menggunakan Zoom, kami semua installed aplikasi Discord. Dengan aplikasi itulah kami brainstorming, sharing files, sekadar koordinasi, hingga conference call. Seru! Saya sungguh salut pada semua tim di Storytelling Agency ini. Semangat dan performanya mengingatkan saya pada lagu Sandhy Sandoro. … tak pernah padam…. #yousingyoulose

0 Comments

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan