Writer’s Block, Coming Up Blank, 5 Cara Mengatasinya

Seorang penulis profesional dituntut untuk bisa menulis kapan saja dan di mana saja. Apa yang harus dilakukan jika penulis mengalami writer’s block?

Menulis tidak selalu seperti berjalan di taman bunga. Kadang seperti lewat jurang, kadang jumpa jalan buntu.

Pagi tadi, saya datang setelah Nia, salah satu penulis di Content Studio. Dia sedang membaca buku di common room saat saya meletakkan tas di meja. Kemudian, saya lihat dia masuk pantry. Lalu tak lama, menguarlah harum teh. Nia, selain jago menulis, juga dikenal piawai urusan teh dan aneka cara seduhnya.

“Bikin apa, Ni?”

Tisane rosebud,” jawabnya sambil menghirup aroma teh dari cangkirnya. “Banyak manfaatnya lho.”

“Apa itu tisane?”

“Kalau teh, bahannya dari pucuk daun Camellia Sinensis. Nah, kalau tisane, bisa dari beragam bagian tanaman macam-macam. Akar, batang, daun, atau biji. Seperti lavender atau ginseng.”

“Hmm… bukan teh, dong, namanya?”

“Bukan. Tisane. Yang aku minum ini pucuk mawar. Berguna untuk meredakan stres.”

“Kamu sedang stres?”

“Kena writer’s block, nih….”

Nia lalu bercerita bahwa menulis tidak selalu seperti berjalan di taman bunga. Kadang seperti lewat jurang, kadang jumpa jalan buntu. Kalau sudah buntu, artinya kena writer’s block. Tapi, karena sudah berpengalaman, Nia pun paham cara menanggulanginya.

Writer’s Block? Bisa dilawan!

Olahraga

Content Partner kami, Bubu, rutin jogging 30 menit setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Olahraga itu anti stres stres club! Fokus, produktivitas, dan memori jadi meningkat. Tidak perlu punya peralatan olahraga yang mewah, cukup sepatu yang nyaman saja.

Ganti tugas

Melakukan sesuatu yang berbeda untuk sesaat ada baiknya. Misalnya, melukis, mengajak jalan anjing, atau memasak. Di B/NDL Studios, ada pantry yang dipenuhi camilan, es krim, selain tentu saja kopi dan teh, bahkan free flow susu UHT. Siapa saja boleh duduk di sini melepas penat.

Ganti pemandangan

Terkadang cara untuk menjernihkan pikiran dan mencari ide baru adalah mengubah yang kita lihat. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke laut atau naik gunung, cukup kerja di coffee shop biasanya sudah menolong. Hmm… agak butuh effort, tapi rewarding, kok!

Tidak menulis banyak dalam satu waktu

Tekanan karena tugas menumpuk bisa bikin penulis mengalami creative block. Bagi pekerjaan menjadi beberapa segmen kecil. Misalnya, buat target menulis dua artikel setiap hari.

Percaya proses

Perfeksionis? Jangan menulis dan mengedit tulisan secara bersamaan. Mending tulis artikel dalam draft pertama terlebih dahulu. Kalau sudah selesai, baru rewrite, menyunting, mengubah, atau menambah tulisan agar lebih baik.

Itu ada 5 tips dari Nia. Saya setuju, sih.  Apalagi terbukti, setelah menyeduh tisane, Nia lalu kembali tekun di depan laptop, dan tampaknya lancar-lancar saja mengetik.

Namun, saya pikir, mengatasi writer’s block bisa sangat subjektif dan tergantung setiap individu. Bagi saya, yang paling penting adalah mengalahkan keraguan dalam diri dan mengetahui bahwa kerja keras akan membuahkan hasil. Hard work will pay off!

Paul Rudnick, seorang pengarang drama, pernah bilang, “Menulis adalah 90 persen procrastination atau penundaan. Sisanya, baca majalah, makan sereal, nonton iklan. Anda melakukan segala cara untuk menghindari menulis, hingga sekitar jam empat pagi dan Anda mencapai titik mau tak mau Anda harus menulis.”

Nah, artinya, seringkali kita hanya “menyerah” pada deadline. Bagaimana? Setuju?

Tinggalkan Balasan