Belajar Storytelling Lewat Online Learning

Mengaplikasikan storytelling dalam bisnis bisa memenangkan hati pelanggan. Melalui online learning, B/NDL Studios mengajarkan storytelling melalui metode yang efektif.

Setiap orang tua yang anaknya sekolah, pasti paham “ribetnya” online learning. Banyak yang merindukan masa anak-anak masuk sekolah tatap muka, karena lebih praktis. Tapi mau bagaimana lagi? Sebelum pandemi COVID-19 usai, sekolah di rumah adalah pilihan paling aman. Nggak menyenangkan? Nah… kesan membosankan yang terasa saat belajar daring bisa terjadi karena penyedia kelas hanya memindahkan kelas offline ke online. Gaya pembelajarannya sama. Hasilnya? Tentu saja bosan, peserta sulit konsentrasi, kelas jadi terkesan lama dan tidak berguna. Betul, metode pembelajaran tidak bisa disamakan. Beda lingkungan, beda pula metodenya.

Kami mengajarkan cara mengaplikasikan storytelling untuk berkomunikasi melalui tulisan supaya lebih engaging dan pesannya lebih jelas. Storytelling juga bisa digunakan untuk membuat strategi dan leadership.

B/NDL Studios punya Learning Studio. Seperti judulnya, divisi ini memberi pengajaran ke klien, khususnya para profesional dan korporat. Program belajarnya ada tiga, yaitu komunikasi/menulis, strategi, dan leadership. Contoh, ada program Content Marketing & Management belajar tentang strategi, dari mulai content strategy, SEO Strategy, dan key message. Sedangkan program Content Writing and Other Stories itu belajar tentang cara menulis yang efektif, cara memahami audience, dan cara bangun narasi/cerita. Tentu saja, semua kelas didasarkan pada konsep storytelling yang menjadi kekuatan B/NDL Studios.

Diawasi oleh Mia Rubianti, Learning Partner, Learning Studio sudah mengadakan program pembelajaran sejak 2012 dan biasanya dilakukan tatap muka. Namun karena pandemi COVID-19, kelas offline-nya berubah jadi kelas online. Sejak itu dibuatlah Remote-X atau program online learning milik B/NDL Studios. Sebetulnya, Mia sudah mulai membuat konsep tentang belajar daring sejak 2019, karena memang ada rencana memopulerkan kelas online. Pandemi memaksa program dijalankan lebih cepat dari rencana.

Modul belajar disesuaikan dengan kebutuhan

Tantangan utama ketika “memindahkan” kelas offline menjadi online adalah menjaga agar cara belajar online tetap nyaman diikuti dan menyenangkan. Tentu saja suasana kelas harus tetap dijaga agar tidak membosankan, sehingga materi bisa diterima peserta dengan baik.

Sebelum mengonsepkan kelas yang nyaman, kelebihan dan kekurangan belajar online harus dipelajari dalam. Apa yang menjadi kendala terbesar? Mia menemukan bahwa peserta mudah merasa jenuh jika harus berlama-lama di depan komputer. Rentang konsentrasi seseorang di depan layar juga singkat. Jika kelas pasif, peserta dijamin mengantuk. Setelah menemukan hal-hal tersebut, dirancanglah kelas yang tepat bisa memfasilitasi peserta dan trainer untuk berdiskusi. Pembahasan tugas atau studi kasus harus tetap ada, meskipun secara virtual.

“Agar tidak bosan, modul pembelajaran juga tidak banyak. It’s a bite-sized modul,” kata Mia.

Saya setuju. Modul kelas B/NDL Learning Studio memang mudah “dikunyah” sehingga tidak membebani peserta. Bagaimana pun, mereka adalah pegawai yang masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor. Kelas yang mereka ikuti haruslah menyenangkan sehingga bisa jadi hiburan dan bukan tugas tambahan yang menyebalkan.

Dalam program B/NDL Studios, banyak modul yang ringan tapi bermanfaat. Misalnya, di program Data Communication, terdapat tiga modul, yaitu Modul 1 Connecting the Dots, Modul 2 Data Analytics & Visualization, dan Modul 3 Storytelling with Data. Setiap modul diselesaikan dalam waktu satu minggu, berisi bahan bacaan, pembelajaran dari trainer, diskusi, tugas, dan workshop.

Mia menjelaskan bahwa modul-modul pembelajaran disesuaikan dengan learning curve tim perusahaan itu. Apa sih learning curve itu? Learning curve adalah tingkat progres seseorang atau tim dalam mendapatkan pengalaman atau skill baru dan menerapkannya sehari-hari. “Misalnya ada orang yang bisa menulis artikel, tapi tidak biasa melakukan copywriting. Saat dia belajar copywriting, kurva belajar orang itu sedang naik. Ketika dia mulai mengerti dan bisa menerapkan ke pekerjaannya, kurva itu akan turun lagi. Nah, titik perpindahan kurva itulah yang disebut learning curve.”

Tentu saja, kurikulum belajar di B/NDL Studios adalah hasil best practice dan sejalan dengan perkembangan terbaru bisnis-bisnis di dunia. Jadi, para peserta pelatihan tetap bisa update dan bersaing secara global.

LMS untuk online learning yang lebih mudah

Di kantor, para ibu yang anaknya sekolah daring sering bercerita soal distribusi materi pelajaran lewat email. Ada masa tugas harus dicetak, lalu diantar ke sekolah. Sebuah cara belajar yang agak tidak praktis.

Di storytelling agency ini, modul pembelajaran akan diberikan melalui platform TalentLMS. Sepengalaman saya yang pernah ikut belajar, di platfrom Learning Management System (LMS), saya bisa akses lesson plan dan memasukan tugas ke sana. Selain itu, platformnya cloud based, jadi bisa diakses di mana saja, lewat ponsel atau desktop. Menariknya, saya bisa mengatur ritme belajar saya sendiri. Misalnya, saya diberi waktu tiga hari untuk baca materi belajar. Selama tiga hari itu, saya bisa bolak-balik buka TalentLMS kalau masih belum mengerti. Jadinya, saya bisa mengontrol pengalaman dan perjalanan belajarnya.

“Faktor utama keberhasilan program belajar adalah partisipasi. Bagi para pegawai, waktu belajar sering konflik dengan jadwal meeting. Nah, LMS sangat membantu. Dengan adanya LMS, peserta bisa mengatur pola belajar mereka sendiri, karena di dalam LMS sudah ada video lectures, reading materials, dan exercises. Ketika live session dengan instruktur, peserta bisa lebih siap berdiskusi dan membahas tugas-tugas mereka,” kata Mia. Sungguh kelas yang efektif.

Proses online learning di B/NDL Studios

Sudah meluangkan waktu belajar, tentu saja hasilnya harus benar. Tim Learning Studio sangat menjaga proses belajar ini agar tepat sasaran. Karena itu, di awal sekali, sebelum mulai online learning, akan didiskusikan lebih dulu kebutuhan peserta dan tujuan belajarnya. Proses ini terjadi saat ada inquiry. Di langkah ini, akan dilihat tujuan para peserta dan benchmark program eksekutif sukses yang peserta ketahui. Kedua, assessment. Di tahap ini, akan dicari titik temu antara kebutuhan peserta dengan modul yang sudah ada. Jika diperlukan, modul bisa disesuaikan. Di saat ini juga disepakati proses penilaian hasil training, yang akan disampaikan di proses evaluasi.

Ketiga adalah proses training. Tim Learning akan memutuskan jadwal, platform, dan bahan belajar yang digunakan. Peserta akan mendapat akses LMS selama 30 hari untuk mendapat bahan bacaan, melihat video rekaman dari trainer, memasukkan tugas, dan mengikuti workshop. Workshop di B/NDL Learning Studio mengaplikasikan sistem peer editing, artinya tugas akan dibahas bersama dan diperbaiki bersama, untuk kemudian peserta saling memberi masukan sekaligus belajar.

Tahap terakhir, yaitu keempat, evaluasi. Dengan evaluasi, peserta dan perusahaan yang memfasilitasi pembelajaran bisa mengetahui progres pelajaran. Dari evaluasi pula, Tim Learning Studio bisa memberi rekomendasi aksi selanjutnya.

Laporan pelatihan untuk HR dan peserta

Nah, buat saya, laporan yang dibuat oleh tim Learning keren. Karena menggunakan LMS, tim Learning bisa mendapatkan skor average secara otomatis dari assigments dan exercises. Durasi belajar di LMS juga bisa terlihat. Jadi, hati-hati buat peserta yang malas-malasan belajarnya. Pasalnya, bisa terlihat kalau durasi belajar sedikit padahal materi bacanya ada 10 halaman. Hehehe….

Berdasarkan data dari LMS, Tim Learning bisa memberi laporan yang sifatnya individual, termasuk apa saja yang bisa dikembangkan lagi dari tiap-tiap peserta. Penilaian dari tugas juga akan disampaikan, sehingga perusahaan asal peserta bisa memanfaatkannya. “Perusahaan dan peserta pelatihan akan sama-sama mendapat benefit. Hasil belajar terukur, berguna untuk beberapa perusahaan yang ingin memasukkan penilaian ini performa pegawai,” kata Mia.

Fiona Erlita, Training Coordinator di B/NDL Studios, bertugas mengumpulkan data penilaian dari matriks yang dibuat oleh tim dan membuat laporannya. Salah satu laporan untuk Human Resources (HR) yang pernah dibuat Fiona adalah laporan pelatihan dengan menyertakan berapa banyak jumlah peserta yang mendapat nilai A, B, atau C+. “Laporan seperti ini adalah permintaan dari klien karena mereka perlu untuk penilaian performa,” terangnya.  Dalam laporan individual peserta, selain nilai, terdapat juga feedback dari evaluator. Laporan ini bisa bahan komunikasi HR kepada atasannya tentang hal-hal yang harus ditingkatkan lagi oleh pegawai tersebut.

Mengaplikasikan storytelling ke dalam bisnis

B/NDL Studios adalah storytelling agency. Storytelling pula yang menjadi benang merah dari program-program yang di Learning Studio. “Kami mengajarkan bagaimana menggunakan storytelling untuk berkomunikasi melalui tulisan supaya lebih engaging, bisa reach out ke berbagai audience, dan pesannya lebih jelas. Storytelling juga bisa digunakan untuk membuat strategi, seperti menyusun content strategy dan planning-nya. Juga untuk leadership yaitu bagaimana pemimpin menggunakan cerita untuk engage kepada pihak internal atau eksternal perusahaan. Karena dasarnya storytelling menggunakan empati, otomatis leader lebih bisa memahami audience-nya,” jelas Mia.

Ucapan Mia ini mengingatkan bahwa saya pernah membeli sebuah tea blend karena storytelling. Mulanya, pembuat teh itu tidak menjelaskan rasa teh racikannya. Ia bercerita bahwa ia pernah mencium aroma parfum Black Opium dari Yves Saint Laurent. Aroma parfum melekat di kepalanya hingga sekarang. Kemudian ia memutuskan untuk menghadirkan aroma parfum itu melalui teh. Setelah 10 kali racikan, akhirnya ia menemukan aroma teh yang serupa dengan parfum Black Opium: dark, deep, mysterious, dan grand. Jujur saja, cerita dia membuat saya penasaran untuk membeli tehnya dan ingin turut merasakan pengalaman saat ia mencium aroma tehnya. Teh yang “gelap” dan misterius. Hmm… menarik, kan…. Mungkin ini ya yang disebut kekuatan storytelling? Mungkin kalau dia tidak bercerita seperti itu, saya akan melihat tehnya sebagai sekadar minuman pada umumnya saja.

Kalau Anda bagaimana? Apakah pernah memiliki pengalaman membeli barang karena sebuah cerita?

Tinggalkan Balasan