Master Plan: Pedoman Produksi di Storytelling Agency

Master plan itu seperti ‘kitab suci’ dari setiap project yang kita kerjakan. Harus cermat, all details matter.

Erika, Project Support Officer B/NDL Studios.

Seperti sudah pernah dibahas, B/NDL Studios punya tiga studio yaitu Learning Studio, Content Studio, dan Creative Studio. Tentu saja masing-masing studio punya tugas masing-masing.

Khusus di Content Studio dan Creative Studio, layanan kami adalah mengerjakan produk majalah, newsletter perusahaan, annual report, coffee table book, press release dan masih banyak lagi. Seringkali dalam satu masa, Content Studio dan Creative Studio mengerjakan sekaligus beberapa produk.

Dua atau tiga projek berjalan bersamaan masih bisa dihadapi dengan ceria. Yang mulai bikin kepala agak pening adalah ketika projek yang berbareng waktunya mencapai hitungan belasan. Harus ada “senjata khusus” agar semua tetap lancar.

Master plan, pedomannya storytelling agency

Tadi pagi, Erika, Project Support Officer B/NDL Studios, hadir lebih dulu ketimbang saya. Ia sudah duduk manis di mejanya yang tepat di sebelah meja saya. Kupingnya disumpal earphone, sementara jarinya menari di keyboard laptopnya. Kalau dia serius begitu, pasti sedang berkutat dengan satu master plan. Yes… master plan adalah “senjata khusus” untuk klien Content Studio dan Creative Studio.

Master plan adalah dokumen yang secara detail menjabarkan rencana produksi, dari proses inisiasi, tahapan kerja, hingga menjadi produk yang siap didistribusikan

Master plan itu seperti ‘kitab suci’ dari setiap project yang kita kerjakan,” ucap Erika. Setiap projek akan memiliki master plan masing-masing, yang secara detail menjabarkan rencana produksi, dari proses inisiasi, tahapan kerja, hingga menjadi produk yang siap didistribusikan.

Master plan akan mengatur seluruh proses ini sehingga memudahkan setiap orang yang terlibat dalam projek untuk mengerjakan bagian pekerjaannya sesuai waktu yang sudah disepakati.

Kunci membuat master plan

“Dalam tiap master plan, ada tujuan, tipe produk atau servis yang diberikan, human resources yang digunakan, periodenya, cost, dan tantangan dari setiap projek. Masing-masing projek berbeda isi master plan-nya,” jelas Erika. Contohnya, projek majalah 32 halaman tentu berbeda biaya yang dibutuhkan dengan majalah 64 halaman. Buku dan majalah membutuhkan tenaga penulis yang berbeda pula. Itulah mengapa setiap master plan sifatnya unik.

Saya jadi penasaran. Saya condongkan badan ke arah laptop Erika, berusaha mencermati master plan yang sedang ia buat. “Artinya kita harus paham betul ya, dengan projek yang sedang berjalan….”

“Betul. Kita harus paham betul scope of project, yang akan menentukan jumlah human resources, waktu pengerjaan, yang ujungnya akan berpengaruh pada harga layanan.”

Kuncinya, kami di B/NDL Studios harus paham kebutuhan dan keinginan klien. Bisa jadi yang diinginkan adalah pembuatan majalah. Nah, sebagai konsultan, kami harus bisa memberi masukan berdasarkan kebutuhan klien bersangkutan. Apakah majalahnya cukup majalah versi digital? Atau perlu gaya bahasa yang formal? Atau sebaiknya dibuat dalam beberapa bahasa?

Cermat memahami keinginan klien

Contoh terkini adalah pengerjaan projek dari sebuah perusahaan tambang. Perusahaan tersebut memerlukan semacam brosur yang isinya profil perusahaan. Namun, secara spesifik, profil perusahaan ini hendak dipergunakaan untuk mendapatkan sertifikasi B Corp. B Corp adalah sertifikasi yang diberikan kepada perusahaan yang telah menjalankan konsep bisnis berkelanjutan. Ada nilai-nilai tertentu yang harus dijalankan oleh perusahaan yang ingin lolos sertifikasi ini.  Jadi, dalam profil perusahaan tambang klien kami tersebut, isinya tentu bukan sekadar pengenalan terhadap perusahaan serta pencapaian yang telah diraih. Kami harus mengemas detail proses kerja klien kami tersebut agar sesuai kriteria sebagai perusahaan yang ramah lingkungan dan sustainable, sejalan dengan value B Corp.

“Hal seperti itu yang perlu dicermati. Supaya master plan-nya jelas. All details matter dalam sebuah projek.”

Apa saja contoh detailnya? Selain tujuan project, harus dicantumkan proses kerja yang akan dijalankan selama project. Jika penulisan artikel, detail semacam sumber materi dan foto harus jelas. Kemudian harus jelas juga siapa saja yang terlibat dalam project: siapa yang mengerjakan, juga siapa yang bisa memberikan approval dari pihak klien. Master plan bahkan menjabarkan detail potensi hambatan dan cara penanggulangannya.

“Duh, mumet.” Saya menyeruput kopi.

“Enggak lah… kan sudah jelas maunya klien apa, kita akan berikan servis apa. Justru, kalau tanpa master plan, kita semua bisa mumet sampai akhir zaman,” kata Erika. “Sudah, jangan berkerut gitu dahinya. Premature aging, lho.” Ia lalu terbahak, “Serahkan pada ahlinya!”

Tinggalkan Balasan