Interpretasi Desain, Tafsir Makna dalam Karya

 
Budhi Button: Seorang graphic designer harus bisa mengemas konten jadi sangat menarik. Oleh karena itu, interpretasi desain berdasarkan brief dari klien harus tepat.
Ilustrasi oleh Budhi Button

Tolok ukur desain yang sukses itu sederhana. “Saat yang menikmatinya merasa tertarik, nyaman, dan kalau bisa terinspirasi.”

Dulu, sebelum COVID-19 melanda, saya dan keluarga sering meluangkan akhir pekan untuk pergi ke galeri seni. Galeri Nasional di Jakarta Pusat atau Museum Macan adalah dua destinasi favorit saya. Paham seni? Ah, enggak juga. Buat saya seni cukup dinikmati saja. Kalau karyanya bisa membuat hati merasa “penuh” dan hangat, artinya karya itu bagus buat saya.

Di kantor, ada pekerjaan yang beririsan dengan seni, yaitu desain grafis. Budhi Button, Art & Design Partner di B/NDL Studios, adalah penggawa dari divisi ini. Pekerjaannya melakukan interpretasi desain dari klien, mempercantik konten-konten yang dibuat oleh tim konten, dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan oleh klien. Melihat karya Budhi dan tim yang keren ini cukup mengobati kerinduan saya karena tidak bisa pergi ke galeri saat pandemi.

Meja saya bertetangga dengan Budhi, saya lihat dia sedang serius di depan komputer layar besarnya. Tangannya sibuk mengetuk mouse. “Lagi apa, sih?” tanya saya iseng.

“Ini, ngerjain infografis buat Instagram,” jawabnya.

Saya intip layar komputernya. Terlihat ia sedang membuat timeline perjalanan ocean sustainability dengan ikon perahu kertas di atas laut. Garis timeline-nya mirip dengan gelombang ombak, sehingga terlihat sebagai satu kesatuan. Keren!

“Ini hasil intepretasi keinginan klien atau bagaimana, Budhi? Gimana sih prosesnya?”

The art of interpretation

Budhi bercerita, setelah setiap project yang masuk ke B/NDL Studios “disaring” oleh Project Manager (PM), PM akan memberikan brief atau arahan tentang apa saja yang diinginkan klien. Dari brief inilah Budhi mulai bekerja. Ia akan melakukan observasi dulu, cari tahu karakter, selera, dan kebutuhan klien. Ia juga akan mempelajari visual brief-nya. “Keinginan atau kebutuhan dan visual guideline dari klien jadi poin penting sebelum mengerjakan suatu desain,” ujar Budhi menekankan.

Lanjut dari situ, Budhi akan mengumpulkan referensi untuk inspirasi, khususnya dari produk-produk yang sejenis. Misal, kalau membuat majalah, Budhi akan mencari inspirasi dari majalah juga. Mau buat konten media sosial? Pastinya inspirasinya akan dicari dari konten media sosial lain. “Pokoknya lihat-lihat di website design, website stock images, dan majalah atau buku-buku desain,” kata pria yang dari kecil memang suka menggambar ini.

Semua pengetahuan itu akan dikontemplasikan. Saat proses kontemplasi itu, Budhi melakukan sinkorinisasi antara ide-ide visual dengan keinginan klien. “Bagian ini yang paling memakan waktu dalam proses desain,” katanya. Kalau sudah tahu mau dibuat apa, baru akan lanjut proses desain deh.

Desain dalam majalah

Dari berbagai macam project yang diterima oleh Storytelling Agency ini, ternyata Budhi paling suka desain majalah. “Sepanjang karier saya, hampir 85% terlibat dengan majalah. Jadi pasti selalu kangen kalau sudah lama tidak menggarap majalah, hahaha…” katanya.

Ngomong-ngomong tentang majalah, biasanya kami dan klien akan melakukan kick off meeting dulu sebelum mulai proses produksi. Sepanjang saya ikut kick off meeting, biasanya hal pertama yang jadi concern klien adalah layout majalah, karena ini jadi first impression pembaca saat memegang majalah. Meski memegang peran penting, ini tidak menjadi beban untuk Budhi. Ia berkata, “Menurut saya, selama kita bekerja berdasar kesenangan atau hobi…. tidak akan pernah jadi beban. Ya, kalau soal memenangkan first impression… memang jadi tantangan buat designer, tapi sekaligus kebanggaan untuk sebuah karya desain yang mengambil peran sangat penting bagi sebuah produk.”

Menghadapi interpretasi desain yang berbeda

Setiap orang pasti punya referensi desain yang berbeda. Misal, ada klien yang interpretasi desain-nya clean tapi menurut Budhi masih terlalu ramai. Kalau menghadapi interpretasi desain yang berbeda, biasanya Budhi akan memaparkan pendapatnya dulu lewat PM. “Kalau permintaan klien agak kurang pas… ya… kita ajukan argumentasi dulu. Sebisa mungkin kita beri insight menurut pandangan designer, karena itulah tugas kita. Tapi apabila klien akhirnya tidak menerima dan menurut mereka desain yang mereka pilih yang paling ok, ya sudah… kita pakai ide mereka.”

Mengintepretasikan keinginan klien pasti sudah jadi makanan sehari-hari. Namun kalau karya Budhi diinterpretasikan oleh klien, bagimana? Ternyata Budhi pernah mengalami hal ini. Ia bercerita, “Waktu di The Jakarta Post memasang editorial cartoon untuk rubrik opini. Memang karya itu selalu mengundang interpretasi setiap orang yang melihat dan berusaha mengerti ceritanya. Sempat ada cerita, seorang pembaca protes … ya lewat jalur tidak resmi sih. Gara-gara ada gambar atasannya di editorial cartoon. Padahal tidak ada kesan negatif sama sekali di dalam ceritanya. Hmm…  kan lucu yaa… hahahaha.” Tapi memang di situlah serunya interpretasi desain. Siapa pun yang melihat, bebas berimajinasi dalam mengartikannya. Apalagi bagi karya yang sudah masuk ke publik, orang-orang bebas berpendapat apa saja. Ya, ‘kan?

Bagi Budhi, tolok ukur desain yang sukses itu sederhana. “Saat yang menikmati merasa tertarik, nyaman, dan kalau bisa terinspirasi.”

Tinggalkan Balasan