4 Tips Menjadi Content Writer

 

4 Tips menjadi Content Writer

Seperti biasa, jadwal WFO adalah saat yang paling menyenangkan buat saya. Dan pagi ini terasa makin menyenangkan karena obrolan dengan Acith, Content Writer B/NDL Studios, yang saya temui sedang di balkon. Matanya menatap laptop. Jarinya menari dengan cepat di keyboard.

“Wah, kayaknya sedang lancar banget idenya,” sapa saya sambil menarik kursi di depannya. “Eh… sorry sorry… nggak bermaksud ganggu konsentrasi….” Saya sedikit menyesal ketika melihat bahwa gara-gara saya, Acith stop mengetik.

“Ah… nggak apa-apa…. Pas ini sudah selesai. Tinggal kirim ke Bubu.”  Acith menyebut nama Content Partner B/NDL Studios, editor dari semua produk tulisan yang keluar dari Content Studio.

“Wah keren!”

“Kebetulan materinya sudah ada, tinggal disatukan jadi tulisan yang enak dibaca.”

Klien yang majalahnya sedang dikerjakan oleh Acith, memang klien istimewa. Mereka perlu bantuan mengerjakan majalah, sebagai dokumentasi kegiatan-kegiatan mereka. Merasa bahwa tim internal tidak sanggup menuliskan semua kegiatan tersebut dengan baik, mereka menghubungi B/NDL Studios. Jadilah kami yang mengerjakan majalah tersebut. Sejauh ini, kami sudah mengerjakan 10 edisi dan prosesnya relatif lancar.

“Apa saja yang mendukung kemudahan proses menulis untuk majalah ini?” Saya penasaran.

“Alasan klien ini menghubungi kita, karena mereka tidak punya tim penulis. Jadi, materi mentah sudah siap. Tinggal diolah saja. Kadangkala, ada artikel yang sudah setengah jadi. Jadi lewati proses editing, sudah langsung siap tayang,” Acith menjelaskan sambil menunjukkan layar laptopnya.

Sekilas, saya baca artikel yang menurut Acith sudah setengah jadi itu. Memang, secara tulisan, yang saya baca itu sudah cukup lengkap, semua keterangan yang dibutuhkan sudah tertera, hanya perlu diperbaiki urutan kalimatnya dan diberi beberapa kalimat penyambung agar lebih nyaman dibaca.

“Kalau kata Bubu, tulisan semacam ini tinggal ‘disetrika’ saja. Hahaha….”

“Pakai tambahan pewangi?”

“Oh boleh, biayanya tambah Rp1500 ya, Bu.” Gaya Acith menirukan petugas laundry kiloan.

Siapa saja bisa menjadi Content Writer

Acith bercerita, bahwa ia tidak pernah menduga sebelumnya akan lebih banyak menulis artikel majalah. Saat magang dulu, alumni jurusan Jurnalistik salah satu Universitas di Bandung ini sempat menjajal menjadi wartawan sebuah media harian. Saat itulah ia menimba ilmu dalam hal mengumpulkan data lewat wawancara atau liputan. Lalu menuliskan hasil pengamatannya.

“Seru amat, Cith, jadi wartawan di lapangan….”

“Iya… nggak akan bisa lupa waktu dapat tugas meliput demonstrasi di Monas, Jakarta, menentang reklamasi Bali. Di antara ratusan pengunjuk rasa, harus bisa mengenali pimpinannya, karena ingin sekali dapat informasi paling akurat,” kenang Acith. Ketika akhirnya bisa mewawancara pemimpin demonstran dan mendapatkan materi tulisan, Acith mengaku ada kepuasan tersendiri.

“Mana yang lebih menyenangkan? Menulis untuk majalah atau untuk harian?”

“Hmm… dua-duanya sama-sama menulis. Meskipun medan berbeda, kalau bicara profesi, menjadi jurnalis harian atau menulis untuk majalah internal sama-sama menyenangkan.”

Acith percaya siapa saja bisa jadi Content Writer. Apalagi, di perguruan tinggi sudah diajarkan dasar-dasar menulis yang bisa diaplikasikan di mana saja. Namun, memang untuk menjadi penulis yang andal, perlu pengalaman.

4 Tips menjadi Content Writer yang andal

Berdasarkan pengalaman Acith, hal berikut sangat membantunya lebih lancar menulis.

Empati

Put yourself in someone’s shoes. Ini penting, untuk memahami kebutuhan pembaca. Informasi apa yang ingin diketahui masyarakat? Empati juga perlu disematkan ketika mewawancara narasumber. Tidak boleh menghakimi, tapi juga tetap harus kritis jika ada yang tak sejalan dengan nurani.

Riset

Riset, riset, dan riset. Research than you think you need. Semakin banyak mengetahui tentang sebuah topik, akan semakin dalam pemikiran dan tulisan. Riset ini juga sangat diperlukan ketika harus mewawancara seseorang. Bekal pengetahuan akan membuat pikiran penulis semakin terbuka.

Konfirmasi

Ragu akan sebuah info? Cari tahu hingga menemukan kepastian yang bisa dipertanggungjawabkan. Caranya? Bisa menghubungi ahli, bisa juga memperdalam riset. Jangan pernah lupa bahwa Content Writer bertanggung jawab menampilkan tulisan yang bermutu dan berbobot.

Pesan

Tentukan positioning tulisan kita. Siapa yang akan membacanya? Pesan apa yang ingin kita sampaikan. Call to action apa yang kita harapkan dilakukan pembaca? Bayangkan hanya ada dua posisi yang sedang berkomunikasi: penulis dan pembaca. Artinya, yang ingin kita komunikasikan harus jelas. Jangan sampai pembaca tidak mendapatkan apa pun setelah menghabiskan waktu membaca tulisan kita.

Kebanggaan terbesar sebagai Content Writer

“Ada pengalaman lucu?” Saya makin tertarik. Dunia menulis seperti penuh rahasia… banyak hal terjadi di balik satu tulisan.

“Ada! Suatu kali, kami Content Writer harus menulis tentang perayaan kemerdekaan. Entah karena terlalu sibuk, atau memang tidak paham yang dikerjakan, tim komunikasi klien mengirim materi yang tidak lengkap. Hmm… tepatnya, materi yang kurang pas ya…. Yang dikirim lebih cocok untuk materi laporan keuangan karena ada bon pembelian makan dan kuitansi hadiah.”

Acith lalu mengurai cara kerja Tim Konten untuk “memecahkan misteri“ Satu per satu materi dipelajari. Dari bon pembelian makan, jadi tahu jumlah hadirin dan tanggal acara. Dari kuitansi hadiah, diperoleh data soal kategori lomba dan siapa saja pemenangnya. Seru juga ya.

“Wah, kalian juara. Tadi macam terima laundry. Sekarang jadi detektif… eh atau tukang sulap? Yang dengan materi seadanya bisa menghasilkan tulisan luar biasa.”

“Nah, itu risiko pekerjaan, Ella. Dari awal, kita di B/NDL Studios menerima kontrak pekerjaan memang karena klien tidak bisa mengerjakan sendiri. Jadi… ketika, misalnya, materi tulisan dari mereka tidak lengkap… ya wajar. Kalau tulisan mereka sudah bagus, tugas kita apa, dong?”

“Iya juga ya. Jadi memang kalau kalian menjadi tukang sulap… artinya ya kalian mengerjakan tugas. Ya kan?”

“Betul sekali. Sudah tugas tim konten untuk membuat tulisan. Tugas kami melengkapi materi, entah melalui wawancara atau riset lebih dalam. Toh semua nanti akan melewati persetujuan klien sebelum naik cetak.”

“Paham… paham….”

“Pengalaman paling mengesankan adalah saat kami tahu tulisan kami bermanfaat. Rasanya itu kebanggaan terbesar para penulis.”

“Tapi sebetulnya, pengalaman paling mengesankan adalah saat kami tahu tulisan kami bermanfaat. Rasanya itu kebanggaan terbesar para penulis. Entah jurnalis harian, penulis buku, atau penulis artikel majalah… pasti bangga ketika tulisan kami mendapat apresiasi. Seringkali memang ada kompetisi yang ada hadiahnya. Tapi, sekadar tahu bahwa tulisan kami dibaca dan berguna bagi pembaca saja, saya sudah senang sekali,” kata Acith.

“Ah ya… saya tahu. Waktu kamu menulis resep camilan dari buah, lalu saya ikuti, dan anak saya ternyata menyukainya. Kamu memang sudah menulis dengan bagus, sampai saya penasaran mencoba memasaknya. Keren!”

“Sebetulnya, saya menulis juga untuk mendokumentasikan pengalaman. Jadi ketika ada yang mengikutinya, rasanya senang sekali! Terima kasih sudah membacanya.” Acith menutup laptop. “Masuk yuk. Sudah ramai tuh. Waktunya pesan makan siang.”

“Yuk! Wah iya, kemarin katanya Endang, Senior Production Officer mau traktir kita kan. Ayo kita tagih!”

Sungguh, hari ke kantor selalu sangat menyenangkan!

Tinggalkan Balasan