Cemas Masa Pandemi, Rindu Karena Isolasi. COVID-19, Nggak Banget!

Saat ini memang masa yang bikin stres. Pandemi memaksa semua orang menjaga kesehatan diri. Tapi mempertahankan kinerja sambil harus mengisolasi diri mengikuti konsep social distancing bukan hal mudah. Terbayang ‘kan, kesehatan tubuh terjaga. Tapi kesehatan jiwa, bagaimana? Baru saja saya baca bahwa Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menemukan bahwa sebanyak 64,3% dari 1.522 orang responden memiliki masalah psikologis dalam bentuk kecemasan atau depresi gara-gara COVID-19.

Aduh!

Tips mengatasi cemas di masa pandemi covid 19 virus corona. Mempertahankan pekerjaan sambil harus mengisolasi diri mengikuti konsep social distancing bukan hal mudah, apalagi ketika jauh dari keluarga. Storytelling Agency Jakarta | B/NDL Studios   a storytelling agency based in Jakarta | duniaella | dunia ella | blog duniaella | blog dunia ella | duniaella.com | bndlstudios.co | blog storytelling cemas masa pandemi covid 19 isolasi dan konsep social distancing

Pandemi mengajarkan pada kita bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dengan selalu mengingat hal itu, kita bisa mengatur stres.

Ella, Premier Consultant B/NDL Studios

Menyeimbangkan kondisi emosional di tengah pandemi

“Lama nggak pulang ke Solo… ya kangen banget, sih,” kata Bagas ketika kami makan siang bersama di pantry. Bagas adalah Xperience Consultant  B/NDL Studios. Ia belum menikah, merantau ke Jakarta, sementara ibu dan kakaknya tinggal di Solo. Pandemi membuat dia harus sendirian di kamar kos, di awal-awal Jakarta lockdown. Ketika PSBB mulai dilonggarkan, beberapa teman pulang kampung, tapi Bagas tetap di Jakarta karena takut menularkan virus pada keluarganya.

Saya, yang tinggal bersama keluarga, jujur agak cemas memikirkan kondisi Bagas. Pasti berat baginya harus “terkurung” terus-menerus di kamar kos. Tapi saat makan siang tadi, Bagas menyatakan berempati pada para tenaga medis yang telah jadi korban.

“Ada 504 tenaga medis meninggal dunia akibat pandemi. Banyak lho, itu,” katanya sambil menunjukkan ponselnya. Rupanya ia sedang membaca update dari Ikatan Dokter Indonesia. “Perlu pertimbangan sangat matang sebelum saya memutuskan pulang.”

Bagas mengakui dia cenderung stres dan sedih ketika sendirian di kos. Tidak ada percakapan dengan siapa pun, kecuali secara virtual. “Itu pun, tidak semua teman fast response. Duh, saya memang jadi nggak maksimal dalam pekerjaan, karena butuh waktu menenangkan diri.”

Sebetulnya, saya juga panik setiap melihat berita di televisi mengenai jumlah penderita yang terus bertambah. Tubuh seperti terkena psikosomatis, ingin batuk karena tenggorokan tiba-tiba gatal. Cara mengendalikannya? Saya pilih stop nonton berita. Saya juga stop lihat media sosial, dan mencoba memberi sugesti diri untuk tetap tenang.

Buat Bagas, kondisi makin tidak menyenangkan karena homesick. Tapi dia cukup tegar untuk bisa mendistraksi pikiran dengan melakukan hal-hal yang ia sukai. “Olahraga ringan, nonton film, mendengarkan lagu, berselancar di YouTube, atau ‘reuni’ dengan teman-teman, lewat Zoom,” katanya sambil tertawa. Hebat.

Yang dilakukan Bagas sudah sesuai sih, dengan kata psikolog yang juga kolumnis New York Times, Dr. Lisa Damour. Para psikolog telah lama menyadari bahwa rasa cemas adalah sesuatu yang normal dan sehat. Rasa itu membuat kita waspada terhadap ancaman dan membantu kita mengukur ancaman tersebut untuk melindungi diri. Lebih jauh, Dr. Lisa juga menyebut soal distraksi yang dapat membantu kita melewati kecemasan.

Ya kan, Bagas sudah on the right track.

Ketidakpastian akibat pandemi mengajarkan pada kita bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Dengan selalu mengingat hal itu, kita bisa mengatur stres. Mudah-mudahan…

Tetap produktif meski masa pandemi

“Saya memutuskan untuk bangun pagi. Kalau saya mengikuti kemalasan untuk bangun jam 10, pasti efeknya seperti bola salju… malas seharian!” kata Bagas.

Dengan bangun pagi, Bagas punya waktu menyiapkan diri dan membuat to-do list pekerjaan hari itu.

Yup, to-do list itu penting. Sangat penting.

Di buku The 7 Habits of Highly Effective People, Stephen Covey menulis, “Most of us spend too much time on what is urgent and not enough time on what is important.” Rencana-rencana, termasuk dalam bentuk to-do list, akan mengarahkan kita menyelesaikan banyak hal dan memastikan pekerjaan yang kita lakukan penting untuk perusahaan.

Saya termasuk yang perlu jadwal kerja reguler. Meski bekerja dari rumah, bukan berarti saya bisa bangun tidur kapan saja dan bebas mulai bekerja di jam berapa pun. Oh no no no…. Saya tetap dengan jadwal seperti jika pergi ke kantor. Pagi hari dimulai dengan olahraga, sarapan dan mandi, lalu jam 9 akan mulai duduk di depan laptop. Jam makan siang pun sama seperti di kantor, yaitu sekitar pukul 12.00. Setelah makan siang, lanjut bekerja lagi.

Jika saya nekad mengganti kebiasaan, lalu tidur, nonton Netflix, atau main games Among Us di tengah hari… dijamin sepanjang sisa hari produktivitas saya akan tergerus. Bukan berarti saya tidak bisa fleksibel dengan jadwal, tapi rutinitas yang terstruktur bisa membantu saya fokus.

Sedikit dress up di rumah juga bisa menaikkan mood. Buat saya, memakai blouse casual, merapikan rambut, dan memulas lipstik agar tidak terlihat pucat cukup berhasil menjaga semangat kerja. Bubu, Content Partner B/NDL Studios bahkan sering mengenakan high heels meski di rumah. Ya boleh saja…. Biar bagaimana, apa pun yang biasa dilakukan saat bekerja di kantor, sah-sah saja diaplikasikan saat bekerja di rumah.

Saya juga menghindari bekerja di tempat tidur. Jiwa dan tubuh sudah mengasosiasikan ruangan tidur untuk istirahat, akhirnya kerja jadi tidak maksimal jika dilakukan di kamar. Jadi, saya sediakan tempat kerja khusus di rumah, meskipun hanya satu meja mungil saja. Saya tambah dekorasi seperti tanaman, pasang lukisan di dinding, supaya area kerja lebih hidup.

Terakhir, I’ll eat a frog first. Saya kerjakan tugas yang kurang saya sukai terlebih dahulu. Biasanya yang tidak saya sukai adalah yang masuk kategori sulit. Setelahnya, saya merasa tugas jadi lebih mudah dan saya bisa kerja lebih baik karena sudah tidak memikirkan pekerjaan yang sulit itu.

Tips bersosialisasi di tengah pandemi a la Bagas

Sosialisasi saat kerja dari rumah sama pentingnya dengan bersosialisasi di tempat kerja — bahkan lebih penting. Isolasi, diskoneksi, dan kesepian adalah resep yang buruk untuk kesehatan mental kita.

Saya dan Bagas sama-sama menjaga komunikasi dengan orang lain. Kami sering mengirim chat ke orang-orang terdekat. Misalnya, Bagas sering menanyakan kabar ibunya di Solo, meski lebih sering lewat pesan daripada video call. “Video call atau telepon berpotensi bikin saya jadi baper. Saya ini family guy sekali dan Mama sendirian di rumah. Aduh, pasti akan sangat kangen kalau lihat wajah beliau. Kuatir nanti saya malah sedih,” katanya.

Teknologi memang tidak hanya penting untuk bekerja. Iya, saat ini kami semua di B/NDL Studios mengandalkan video call untuk rapat. Ada larangan tatap muka langsung dengan klien untuk menerapkan social distancing.

Bagi Bagas, teknologi pula yang mendekatkan dia dengan keluarga. Video call membantu agar stay connected.

Semoga masa pandemi ini segera usai. Rindu suasana normal kantor. Bagi kami, B/NDL Studios bukan sekadar tempat kerja. “B/NDL Studios jadi tempat menghabiskan waktu, tempat kerja, tempat tidak perlu overthinking, banyak makan, banyak ngobrol,” kata Bagas. Saya setuju. “Kangen ya makan di kantin kantor. Atau beli lauk di resto depan kantor. Kangen ketemu teman-teman. Sungguh ingin weekend bisa pergi-pergi lagi,” tambah Bagas. Lagi-lagi, saya setuju.

Ah, COVID-19, segeralah berlalu.

6 Comments

Leave a Comment

  1. Semangat buat Bagas, terimakasih buat para nakes dan orang orang yang memilih untuk tinggal di rumah buat keselamatan semua orang .. buat orang orang yang memilih untuk jalan jalan dan post di medsos .. emm no comment 🙂

    • Yup! apresiasi sebesar-besarnya untuk para tenaga kerja kesehatan yang sudah berjuang…semoga semua tetap bisa menjaga diri dengan baik yaa…

  2. At least… every body need somebody to social warm contact. Yeaaay ella… 😊your diary inspired me. Tx u

Tinggalkan Balasan