My Love & Work, Saat Kehidupan Profesional & Personal Tak Terpisahkan

Bagaimana cara menyeimbangkan peran dalam keluarga dan pekerjaan? Saat ini kedua hal itu sulit dipisahkan. Ayo buat catatan tentang unsur keseimbangan dalam hidup, sehingga kehidupan profesional dan pribadi dapat proporsional

Hari ini jadwal saya WFH. Entah mengapa, di rumah waktu seakan berlari. Rasanya baru sekali meeting lewat Zoom, ternyata sudah tengah hari. Baru juga membuka file klien untuk memastikan jadwal deadline berikutnya, sudah tiba waktunya clock out. Kami di B/NDL Studios menggunakan aplikasi Basecamp untuk sistem manajemen. Jadi setiap hari kami harus absen masuk dan keluar di aplikasi itu.

Akhir tahun lalu, saat rapat kerja, Maggie, Co- Founder & Chief Creative Officer kami bercerita, dulu banyak orang-orang yang berusaha memisahkan kehidupannya menjadi dua: profesional dan personal atau pribadi. Tapi sekarang, bagaimana?

Ketika itu, mau tak mau, pikiran saya memang melayang ke saat-saat WFH seperti hari ini. Pandemi memaksa kita semua membatasi aktivitas di luar rumah. Ayah dan ibu berkantor di rumah. Anak-anak bersekolah di rumah. Day care di dekat tempat tinggal saya yang biasa meriah dengan teriakan para balita, kini sepi. Bisa dipastikan, semua orang tua memilih merawat buah hati mereka sendiri, di rumah. Semua dilakukan di rumah.

Bagi saya, sesungguhnya kantor bukan sekadar tempat bekerja. Kantor tidak lagi hanya tempat mencari nafkah tapi tempat saya mencari suasana selain di rumah, lepas dari tuntutan predikat saya yang lain: ibu rumah tangga.

Perasaan bebas dari kewajiban mengurus rumah itulah, yang kini sulit sekali saya dapatkan. Bagaimana bisa jika pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah dilakukan di tempat yang sama?

Pandemi memaksa kita beradaptasi terus-menerus, termasuk dalam soal keseharian profesional dan personal kita

Dulu, saya biasa “melarikan diri” ke kantor saat jenuh di rumah. Sungguh saya rindu masa itu. Kini, tak ada pilihan bagi saya selain berupaya bersenang-senang di rumah ketika saya butuh rehat sejenak dari pekerjaan.

Saya tidak sendiri. Mia, Learning Partner B/NDL Studios, sekarang menekuni bercocok tanam untuk meredakan kebosanan. Aneka varietas aglonema dan monstera mempercantik beranda rumahnya. Rara, Client Partner B/NDL Studios, sengaja melengkapi dapurnya dengan alat-alat pembuat roti, sehingga ia bisa memaksimalkan oven di rumahnya kala butuh distraksi dari tugas-tugas rutin kantor. Nia, salah satu content writer  B/NDL Studios, memperdalam pengetahuan tentang teh, juga belajar membuat macrame.  Saya? Saya memilih mencoba-coba aneka produk kecantikan juga membersihkan rumah saat butuh kegiatan lain untuk hiburan.

Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it.” Itu kira-kira kalimat Charles R Swindoll, penulis The Great Awakening. Yang 90% itulah yang harus kita pikirkan dengan tepat agar hidup tidak berjalan di tempat. Dan saat pandemi ini, sadar tidak sadar, itulah tantangan terbesar.

Semakin sulit memisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Beberapa kali wajah anak saya atau anak teman-teman ikut muncul di layar Zoom saat online meeting. Tidak ada maksud untuk being unprofessional. We are all just being realistic. Saya hanya bisa memberi pengertian kepada anak bahwa saya sedang bekerja. Tapi kalau dia lupa, lalu tiba-tiba menghampiri dan mencium pipi ibunya yang sedang meeting, kan tidak mungkin diusir….

Yang harus diwaspadai adalah ketika jam kerja bagai tak ada hentinya. Hari-hari di kantor, saat jam pulang, tubuh dan otak kita mendeteksi bahwa waktu kerja sudah usai dan kita bisa beristirahat. Sekarang? Sepertinya otak saya sering sulit memilah antara jam kerja dan jam istirahat karena satu sama lain tumpang tindih. Tanpa terasa saya bisa bekerja hingga larut malam.

Seimbang, balancing life for a healthy mind (and body)

Tidak ada yang salah dengan working long hours, asal tubuh dan pikiran kita tak terbebani. Kuncinya keseimbangan. Apa sih, balanced life itu?

Konon, seseorang bisa mencapai sukses ketika tujuh unsur dalam hidupnya sudah proporsional. Apa saja? Kesehatan fisik, hubungan antaranggota keluarga, kehidupan sosial, finansial, pekerjaan, amal, dan spiritual.

Sejak pandemi, saya sengaja mencatat skor untuk masing-masing unsur tersebut, just so I can track my routine. Setiap minggu, saya disiplinkan diri memeriksa catatan unsur keseimbangan tersebut dan membubuhkan skor 1 sampai 5 di tiap unsur. Apakah minggu ini saya sudah menjaga kesehatan tubuh saya? Makan sehat dan cukup olah raga? Jika ya, saya tulis 5. Apakah minggu ini saya luangkan waktu untuk bermain bersama anak saya? Bercengkerama dengan suami (dan bukan hanya meminta bantuan membuang sampah atau membersihkan kamar tidur)?  Sudahkah saya menghubungi sahabat saya dan bersenda gurau dengannya? Tabungan saya, masih aman, tidak? Deadlines… seberapa sering saya meleset? Sudah beramal? Tidak lupa sholat?

Tentu saja angka skor ini akan sangat variatif. Tapi saya senang. Sejak punya catatan untuk diri sendiri, saya jadi paham bertindak seimbang. Pada akhirnya, saya sadar, saya tidak bisa semata membagi 24 jam menjadi dua: untuk urusan pekerjaan dan rumah. Jika Matematika semacam itu saya terapkan, saya bisa stres sendiri. Saya harus berdamai dengan keadaan. Tidak mengapa jika hari ini dan besok saya bekerja hingga 12 jam, asal saat akhir pekan saya bisa meluangkan total 20 jam untuk anak saya.

Anyway, hari ini agenda saya cukup padat hingga malam. Jadwal meeting terakhir adalah pukul 19.30. Karena beberapa teman harus membereskan urusan sekolah anak-anak mereka di siang hari, satu meeting terpaksa dilakukan setelah jadwal makan malam. Tidak mengapa. Toh, weekend ini saya sudah rencanakan makan siang istimewa, dengan menu-menu yang akan saya contek dari The Martha Stewart Living Cookbook. Yes, mari merayakan Valentine’s Day di rumah saja.

Enjoy being at home, everyone!

2 Comments

Leave a Comment

  1. Balancing life and healthy mind (and body) yeaay ella suppeer quote!!!! You are a good person. Lucky BND/L to have you. Good luck ella…

Tinggalkan Balasan