What Makes You Great is Yourself, Berlatih untuk Menjadi Lebih Baik

Tidak ada hal yang instan, begitu pula dengan keahlian. Bakat tidak akan menjadi hebat bila kita tidak berlatih secara rutin.

Saat ini saya sedang senang mendengarkan berbagai lagu di YouTube Sangah Noona. Pianis Korea Selatan ini tak hanya bermain piano, tapi juga menyanyi. When I heard her playing the piano, oh she plays so damn good! Sangah sering melakukan improvisasi terhadap lagu-lagu yang sudah ada dengan gaya dia sendiri. Lagu Overjoyed, Stevie Wonder atau Dancing Queen dari ABBA dengan piawai ia mainkan menjadi versinya sendiri. Dan bagus sekali. Berulang kali saya menonton aksinya di kanal YouTube tanpa bosan. Melihat Sangah bermain, saya selalu merasa bahwa dia sangat berbakat.

Suatu hal yang tampak sangat mudah

Saya belajar piano selama 13 tahun lebih. Sejak umur empat tahun, saya sudah didudukkan di kursi piano, meskipun kaki saya masih menggantung. Lalu apakah sekarang ada hasilnya? Hanya lima lagu yang saya masih ingat. Dibandingkan dengan Sangah? Jauuuh sekali… seperti jarak Jakarta – Seoul. Lalu saya berpikir, apa yang dilakukan Sangah sehingga bisa menjadi pianis yang hebat? Tentu semua tidak instan. Jawabannya jelas: konsistensi latihan.

Satu bocoran yang saya berikan untuk yang ingin menjadi pianis hebat: tekan tuts piano yang benar dengan urutan yang benar. Caranya?

Rajin pangkal pandai, katanya

Peribahasa ini tepat untuk menjelaskan bahwa orang yang berbakat tetapi tidak berlatih rutin bisa kehilangan kemampuannya. Bakat hanyalah nilai plus tetapi bukan inti rumus. Leonardo Da Vinci mencuri kertas dari meja kerja Ayahnya untuk media melukis. Mozart menangis saat Ayahnya membawa pergi pianonya. Di kantor kami, Budhi, Art & Director Partner B/NDL Studios harus terus berlatih dengan software grafisnya agar karyanya selalu mengikuti tren terkini, dan yang paling penting agar ia tak lupa tekniknya.

Artinya? Latihan terus-menerus akan membuat seseorang menjadi ahli. Seringkali, godaan untuk tidak berlatih memang lebih besar. Jika Anda ingin mahir memasak dengan mengikuti tutorial di YouTube, tapi ternyata lebih tergoda membuka kanal-kanal film pendek, kemahiran memasak itu hanya akan berhenti sebagai impian belaka.

Knowing something doesn’t mean able to do that thing

Ingatkah cerita saya tentang mengerjakan produk Social Media Management di B/NDL Studios? Saat itu tidak ada satu pun anggota tim Content Studio yang berpengalaman mengerjakannya. Menulis caption media sosial secara profesional, apalagi dalam Bahasa Inggris, adalah hal baru bagi tim Content Studio.

Selama ini, masing-masing tim Content Studio memang punya akun media sosial dan rutin mengisinya. Namun, bukan dalam konteks profesional dan tidak ada materi yang sifatnya “harus ditulis” dengan bahasa resmi karena sasaran audience yang dituju adalah anggota forum internasional. Tapi, sekadar tahu, bukan berarti bisa.

Menjadi ahli di suatu bidang, tidak bisa instan. Tentunya ada proses yang dibutuhkan, bahkan orang yang berbakat sekali pun. Apa yang harus kita lakukan agar bakat kita terpancar dan menjadi bermanfaat?

Apa yang mereka lakukan? Berlatih. Maggie, Co-Founder & Creative Chief Officer B/NDL Studios senantiasa mengingatkan tentang struktur menulis untuk sosial media. Pola inilah yang harus dilatih dan diimplementasikan. Cara berpikir juga harus disesuaikan dengan sudut pandang pembaca sehingga caption tepat sasaran. Terbukti, setelah beberapa hari berlatih, berkali-kali membuat revisi, berulang kali harus menulis lagi dari awal, tim Content Studio berhasil melaksanakan tugas sesuai permintaan klien.

Ibarat mengemudi mobil. Kita semua paham bahwa ada pedal gas dan rem yang harus diinjak (maaf, mobil saya matic). Ada tuas yang harus dipindahkan sesuai kebutuhan. Maju atau mundur. Tapi kita harus berlatih terus agar pergerakan selaras, sehingga mobil yang kita kemudikan meluncur lancar.

Saya makin paham bahwa apa pun bisa dilatih agar sempurna. Practice makes perfect!

How does practice make perfect?

Malcom Gladwell dalam bukunya Outliers: The Story of Success menjelaskan tentang “10.000 hours rule”. Untuk mencapai suatu keahlian di bidang apa pun perlu 10.000 jam latihan. Malcom memperkirakan The Beatles menghabiskan 10.000 jam latihan bermain di Hamburg pada awal tahun 1960an, serta Bill Gates menghabiskan 10.000 jam bekerja di bidang pemograman sebelum menemukan Microsoft.

Kata “10.000 jam” seperti mengingatkan kita bahwa latihan memang identik dengan komitmen. Apakah kita sanggup meluangkan waktu selama itu? Apakah kita cukup fokus, sehingga bisa bertahan hingga 10.000 jam? Apakah kemauan kita cukup kuat, hingga tidak akan tergoda melakukan hal lain sebelum memenuhi target 10.000 jam?

Sebetulnya, latihan membutuhkan apa lagi, sih?

Waktu

Luangkan waktu untuk membiasakan diri dengan proses dan alat yang dibutuhkan untuk keterampilan yang ingin kita kuasai. Waktu yang paling baik adalah pagi hari, saat pikiran masih segar dan hati masih tenang.

Variasi

Tidak disarankan berlatih secara monoton, untuk membantu mempertahankan ketertarikan sehingga kita tidak bosan. Misalnya jika berlatih bermain piano, kita harus latihan fingering dan hearing. Lakukan selang-seling. Jangan berlatih fingering selama tiga hari berturut-turut agar kita tidak frustrasi.

Jangan takut!

Salah adalah proses belajar yang optimal, karena kesalahan membantu kita mengetahui kekurangan yang harus kita perbaiki.

Selalu cari tahu

Ingatlah bahwa eksplorasi adalah bagian penting dari mempelajari sesuatu.

Malas? Ke laut aja….

Sebetulnya, saya pikir, dalam proses latihan yang makan waktu lama (10.000 jam, bayangkan!) halangan terberat adalah rasa malas. Tapi, harus dilawan! Kemalasan tidak akan membawa kita ke mana pun. Da Vinci, Elon Musk, Einstein, adalah contoh tepat soal komitmen untuk tekun berlatih.

Latihan adalah jalan satu-satunya untuk berhasil. Saya yakin, tidak ada kata terlambat untuk memulai latihan sekarang. Ada baiknya saya buka lagi buku musik dan kembali ke kursi piano. Menjadi Premier Consultant di B/NDL Studios sekaligus pianis andal tentu bukan ide yang buruk.

Tinggalkan Balasan