Angels No More! Saatnya Standar Kecantikan Inklusif Berkibar

Tidak ada kata terlambat mempromosikan standar kecantikan inklusif. Setelah 44 tahun berdiri, Victoria’s Secret akhirnya melakukan rebranding.

When the world was changing, we were too slow to respond. We needed to stop being about what men want and to be about what women want.

Martin Warters

Media sosial kadang menghibur, kadang juga tidak. Banyak debat kusir yang terjadi di platfrom tersebut. Kalau sudah menemukan yang seperti ini, biasanya saya abaikan saja. Namun, kemarin ada perdebatan yang menarik perhatian saya, yaitu seorang influencer tanah air yang mengkritik pergantian model Victoria’s Secret yang sebelumnya dikenal dengan sebutan ‘Angels’ menjadi The VS Collective.

Memang masalahnya apa? Jadi, Victoria’s Secret melakukan rebranding dengan menggunakan standar kecantikan yang inklusif. Model-model yang digunakan tidak lagi kurus dan lurus ala boneka Barbie. Di The VS Collective, brand ini mengajak model-model dengan tubuh curvy dan atletis. Sepertinya ini cara Victoria’s Secret untuk tetap relevan di antara konsumen yang sadar bahwa definisi cantik sangat luas.

Celebrating diversity on the runway

Dahulu kala, standar seseorang dikatakan cantik adalah muda, putih, berbadan lurus, bertubuh kurus, simetris—ditambah rambut panjang berwarna keemasan. Namun kini standar tersebut sedikit demi sedikit berubah. Sosial media berperan besar dalam perubahan ini. Sekelompok besar yang terdiri dari orang-orang yang selama ini tidak “terdengar” telah memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya, memperlihatkan citra diri positif diri mereka, dan menginspirasi satu sama lain.  

Rihanna mengeluarkan brand lingerie Savage X Fenty di 2018 sambil merayakan beauty diversity. Di tengah kejayaan Victoria’s Secret dengan para Angels yang berjalan di panggung sambil mengenakan sayap besar, Rihanna mendobrak kebiasaan industri pakaian dalam perempuan dengan mengeluarkan lingerie berbagai bentuk, warna, dan ukuran. Modelnya juga lebih beragam: skinny, plus sizes, black, white, Asian … you name it! Bahkan ada model yang tengah hamil juga.

Perlu diingat kalau Rihanna juga membuat revolusi kecil di dunia kecantikan. Di 2017, ia meluncurkan brand makeup Fenty Beauty. Tidak tanggung-tanggung, ia mengeluarkan 40 warna foundation, dari warna fair hingga deep. Peluncuran ini dirayakan oleh para penikmat makeup di dunia, terutama orang-orang berkulit gelap yang selama ini sulit menemukan warna foundation yang tepat.

So long, Angels!

Oke, balik lagi Victoria’s Secret. Di Juni lalu, Victoria’s Secret melakukan rebranding karena adanya kompetisi yang kian meningkat dan gejolak internal. Melalui The VS Collective, brand lingerie sejak 1977 ini akhirnya memperluas standar kecantikan para modelnya, meski terlambat.

Iya, terlambat. Martin Warters, mantan kepala bisnis internasional Victoria’s Secret yang kini ditunjuk jadi Chief Executive mengakuinya. “When the world was changing, we were too slow to respond. We needed to stop being about what men want and to be about what women want,” katanya dikutip dari New York Times.

The VS Collective menggandeng perempuan-perempuan berprestasi untuk rebranding ini. Contohnya, aktivis LGBTQIA + dan pemain sepakbola profesional Megan Rapinoe, aktris sekaligus investor teknologi Priyanka Chopra, model transgender Brazil Valentina Sampaio, pemain ski freestyle Eileen Gu, serta biracial model dan advokat inklusivitas Paloma Elsesser.

Victoria’s Secret sadar kalau rebranding tentu tidak hanya mengubah model untuk kampanye saja, tapi produk-produknya juga perlu diperkaya. Karenanya, kini mereka tidak hanya memproduksi thong atau lingerie berenda saja, tapi juga sportwear dan produk maternity. Malah, baru-baru ini mereka merayakan Mother’s Day. Bagi Victoria’s Secret, ini sesuatu yang luar biasa, karena sebelumnya Mother’s Day dianggap tidak seksi!

Value matters

Saya setuju dengan Alison Bringe, Chief Marketing Officer at Launchmetrics. Dikutip dari Forbes, Alison berpendapat bahwa marketing lebih dari produk saja, tetapi harus ada nilai dan strategi yang inklusif dan memiliki dampak positif terhadap performa brand dan engagement.

Sepertinya konsumen akan senang jika melihat brand bisa memberikan nilai yang dijanjikan dan bisa memberikan peran penting pada masyarakat. Menurut saya, dengan Victoria’s Secret melakukan rebranding menggunakan standar kecantikan inklusif, mungkin akan ada banyak perempuan yang kini lebih percaya diri bahwa cantik bisa dalam berbagai bentuk. Para perempuan bisa menerima diri apa adanya, apa pun ras, bentuk tubuh, dan warna kulitnya.

Kalau menurut Anda bagaimana?

Tinggalkan Balasan