Kembali Hidup Normal Setelah Vaksin COVID-19. Bisakah?

Vaksin COVID-19. Dua kata yang menjadi harapan orang-orang di dunia. Saya lihat bagaimana suami saya serius dengan ponsel, untuk tahu perkembangan pemberian vaksin ini. Ia, bersama miliaran orang lainnya, menunggu kapan vaksin hadir dan kapan dapat giliran disuntik. Terbayang sih, kita semua ingin segera kebal, ingin kurva COVID-19 turun, dan yang jelas ingin kembali hidup normal. Paling penting, tidak ada lagi nyawa yang terenggut karena virus ini.

Semenjak tiga juta dosis vaksin Sinovac masuk ke Indonesia akhir tahun lalu, harapan mulai menyala di mana-mana. Ketika vaksin mulai disuntikkan ke seluruh tenaga medis di Januari lalu, harapan suami saya makin besar, “Kapan warga sipil seperti kita dapat giliran? Jika sudah disuntik, bisakah kita kembali ke kehidupan normal dan bekerja seperti biasa?”

Kapan kita bisa melihat hasil Vaksin COVID-19? Bulan depan?

Sayangnya tidak secepat itu, Ferguso.

Hasil baca-baca Healthline, menurut para ahli, butuh waktu lama agar vaksin memiliki hasil yang jelas. Jalan kita masih panjang untuk memerangi virus corona ini. Orang-orang harus tetap melakukan physical distancing untuk mencegah penyebaran COVID-19. Profesor epidemologi di UCLA Fielding School of Public Health Dr. Thimoty Brewer mengatakan bahwa jumlah vaksin belum bisa memenuhi kebutuhan untuk memberikan dampak yang berarti.

Di artikel itu ditulis, Brewer berpendapat kalau setiap negara harus membuat rencana distribusi vaksin dan memutuskan bagaimana vaksin tersebut ditempatkan untuk menjaga kualitas vaksin. Misalnya vaksin Pfizer perlu tempat penyimpanan dengan suhu minus 70°C hingga minus 80°C. Pastinya ini tantangan sekali untuk negara yang tidak punya tempat penyimpanan yang sespesifik itu.

Sambil membaca, saya berpikir, ini tantangan buat pemerintah Indonesia. Apalagi ditambah  kabar terbaru dari Kementerian Kesehatan, bahwa diskusi untuk Indonesia menggunakan 50 juta dosis vaksin Pfizer ini belum final.

Work from home, creativity in isolation

WFH – working from home – adalah akronim yang tanpa kita duga sudah kita gunakan hampir setahun. Selama itu pula kita berdampingan dengan virus corona yang membuat kita bertanya-tanya bagaimana kita tetap bisa bekerja dengan baik, padahal hidup kita berubah 180 derajat.

Tidak semua perusahaan dan organisasi di Indonesia bisa menerapkan sistem WFH. Misalnya para pegawai yang membantu negara agar bisa melewati krisis seperti tenaga kesehatan. Atau perusahaan penerbangan. Bagi yang terakhir ini, WFH berarti tidak bekerja. Bagi karyawan, bisa saja artinya tidak ada pemasukan.

Perusahaan yang bergerak di industri jasa seperti B/NDL Studios, termasuk yang sedikit lebih beruntung. Kami bisa menjaga keberlangsungan bisnis di masa-masa turbulen seperti sekarang. Semua hubungan dengan klien, meeting, diskusi, atau apa pun itu, bisa kami lakukan secara virtual. Jadi teringat beberapa teman yang memutuskan menjadi digital nomad. Mereka biasa bekerja di mana saja, seringnya di cafe atau tempat eksotik berpemandangan indah di depannya. Nah, di masa pandemi, bekerja remote tidak seperti itu. Meeting klien di pantai? Duh, I wish!

Pandemi membuat kita harus tetap di rumah. Kita bekerja dari rumah sambil berhimpitan dengan anak dan pasangan. Sungguh sebuah tugas tak mudah: menjaga dapur harus tetap ngebul, sekaligus rumah tetap rapi dan nyaman dihuni. Work-life-balance jadi tantangan. Bekerja di rumah pasti berpengaruh pada para pekerja kreatif yang biasanya butuh ruang dan waktu untuk memunculkan ide-ide di kepalanya.

Kemunculan vaksin COVID-19 menjadi oase di tengah pandemi yang belum berakhir. Sayangnya, vaksin tidak serta merta mengembalikan hidup seperti semula. Kita masih harus kerja di rumah. Para pekerja kreatif, yang membutuhkan keleluasan ruang dan waktu, harus mencari cara menjaga kreativitas.

Semua pegawai di B/NDL Studios adalah pekerja kreatif. Teman-teman di tim Content Studio harus bisa menjaga kualitas tulisan tetap cemerlang, tim Creative Studio harus bisa menemukan ide-ide segar buat klien, dan tim Learning Studio harus cermat menyusun program menarik yang bisa dijalankan secara virtual. Consultant seperti saya juga harus kreatif mencari peluang kerja sama baru, cari klien baru, hingga mempertahankan yang telah ada.

Mau tidak mau, WFH berdampak pada kurangnya komunikasi, spontanitas, dan hubungan interpersonal. Steve Jobs adalah satu orang yang berseberangan sama konsep WFH. Dia percaya kalau kinerja terbaik pegawai muncul saat mereka tidak sengaja bertemu dengan pegawai lainnya, dan bukan ketika duduk di depan komputer di rumah. “Kreativitas datang dari pertemuan spontan, dari diskusi random,” katanya. “Kamu menghampiri seseorang, kamu bertanya apa yang sedang mereka lakukan, lalu kamu bilang ‘Wow’, dan kemudian idemu bermunculan.”

Setuju, sih. Kadang saya merasa bahwa sekadar duduk bareng di pantry bisa menyegarkan pikiran. Kalau buntu mengerjakan sesuatu, tinggal menghampiri meja salah satu teman-teman di B/NDL Studios deh. Tidak sedikit masalah jadi gampang terpecahkan karena diskusi spontan.

Mungkin inilah yang membuat Maggie, Co-Founder & Chief Creative Officer di B/NDL Studios bilang bahwa kami tetap akan melakukan kombinasi WFH dan WFO meski sudah disuntik vaksin. Setelah disuntik, kita mungkin kebal, tapi harus tetap berkontribusi mencegah penularan virus, dengan tetap WFH. Untuk memfasilitasi kebutuhan kreativitas para pegawai yang perlu tatap muka, akan diatur jadwal WFO. Baiklah.

Be creative, going with the flow

Saya tidak membiarkan kesibukan di rumah dan kecemasan menunggu vaksin COVID-19 menggerus kreativitas. Tempo hari, salah satu tulisan yang saya baca untuk mengatakan bahwa untuk mengasah kreativitas, kita harus memasuki kondisi flow.

Maksudnya bagaimana?

Pernah beraktivitas sampai lupa waktu? Nah, kondisi mental saat losing track of time itu disebut “flow”. Psikolog Mihály Csíkszentmihályi menjelaskan kondisi ini sebagai “terlibat sepenuhnya dalam kegiatan demi kepentingannya sendiri”. Dalam kondisi yang mirip keadaan tak sadarkan diri, seseorang khusyuk dan berkonsentrasi penuh.

Penelitian dari professor Harvard Teresa Amabile menunjukkan kalau orang yang mengalami kondisi flow mengalami tingkat kreativitas, produktivitas, dan kebahagiaan yang tinggi. Hal ini tidak berlangsung secara singkat, tetapi dalam jangka lama. In other words, being in flow trains us to be more creative.

Bagaimana caranya agar bisa masuk dalam kondisi flow? Lakukan kegiatan yang kita suka, yang kira-kira bikin suka lupa waktu. Apakah lari? Memasak? Membaca buku yang bagus? Membuat dokumentasi personal melalui gambar? Tidak ada hubungannya dengan kreativitas juga tidak apa-apa. Yang penting masuk kondisi flow dulu.

New normal, forever

Di luar pekerjaan, saya tertarik melihat seperti apa dunia baru nantinya ketika pandemi berakhir. Tentu saya berharap kondisi ekonomi tidak terdampak terlalu buruk. Sejauh ini, kelihatannya kantor-kantor akan mengombinasikan sistem WFH dan WFO, seperti B/NDL Studios, kantor saya. “We are going to be stuck at home together a bit longer. Sabar-sabar saja, ya,” canda suami saya.

Tebakan saya, ketika vaksin COVID-19 sudah menunjukkan hasilnya, kita akan melakukan networking atau menghadiri acara lebih banyak dari sebelumnya. Kita akan lebih menghargai hubungan sosial dengan teman-teman dan keluarga. Namun memakai masker akan tetap dilakukan, batas plastik di kasir-kasir supermarket tetap akan terpasang, hand sanitizer masih akan kita kantongi ke mana-mana, dan virtual meeting akan tetap ada. Kita tidak akan pernah kembali seperti dulu. Inilah new normal.

Kalau menurut Anda, bagaimana?

Tinggalkan Balasan