Dunia yang Inklusif, Semua Punya Arti, Nilai, dan Kesempatan yang Sama

Setiap orang, wanita atau laki-laki, adalah setara. Siapa pun dapat berprestasi dan punya arti. Mari menciptakan dunia yang inklusif dengan saling berempati satu sama lainnya

What do you think about women? Kepala saya langsung terpatri pada Angela Merkel, seorang politikus dan mantan ilmuwan peneliti asal Jerman yang kini menjabat sebagai Kanselir Jerman dan ketua Persatuan Demokrat Kristen. Ternyata Angela menjadi perempuan pertama yang menjabat kedua peran tersebut. Saya tidak heran kalau ia ada di peringkat pertama The World’s 100 Most Powerful Women 2020 yang dirilis oleh majalah Forbes. Saya rasa, wanita bisa melakukan segalanya. Saya juga bisa! Berkarier, menangani klien, mengurus anak dan suami, memasak dan mencuci…. Hmm….

#ChooseToChallenge campaign from International Women’s Day (IWD)

IWD diperingati setiap tanggal 8 Maret. Yup… sebentar lagi. Gerakan ini diinisiasi oleh para buruh pabrik tekstil di New York pada 1908. Mereka berdemonstrasi memprotes upah kerja yang minim dan jam kerja yang panjang. Lebih jauh, para buruh ini merasa tidak memiliki kekuatan untuk berpendapat. Selama setahun mereka berjuang, hingga akhirnya Partai Sosialis Amerika memutuskan merayakan Hari Perempuan Nasional pada 28 Februari 1909.

Gerakan perempuan ini melebar menjadi perhelatan bagi anggota partai Sosialis di beberapa negara, hingga diadakan International Socialist Women Conference (ISWC). Pada 2010, dalam konferensi ISWC di Kopenhagen, Denmark, hadir Clara Zetkin, delegasi Social Democratic Party dari Jerman. Clara adalah politisi di Jerman yang aktif menjadi orator perjuangan hak-hak pekerja perempuan. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Fighting Racism; How to Struggle and How to Win. Clara mengusulkan IWD dirayakan setiap tahunnya di seluruh negara. Usul tersebut disambut meriah. Saat itulah ditetapkan tanggal 8 Maret sebagai hari milik perempuan di seluruh dunia.

Tahun ini, tema yang diusung dalam IWD adalah #ChooseToChallenge. Tentu saja, pemilihan tema didasarkan pada kenyataan banyak perempuan masih belum berani menyuarakan pendapat, apalagi menuntut hak. From challenge, comes change. Let’s challenge gender bias. Let’s challenge gender inequality. Ajakan-ajakan ini meriah sekali ditampilkan di laman IWD.

Saya berpikir, tema #ChooseToChallenge sangat menarik dan menggugah. Namun, saya juga merasakan ironi di dalamnya. Ironis karena nampaknya, sejak 1908 hingga sekarang, pergulatan perjuangan perempuan di dunia masih belum selesai terkait kesetaraan.

Bias gender ternyata ada di film animasi juga

Beberapa saat lalu, saya menonton salah satu episode film dokumenter Inside Pixar berjudul Who Gets All The Lines?. Jessica Heidt, Script Supervisor bersama koleganya Josh Minor dari Tools Departement Developing Software membuat sebuah piranti lunak yang dapat menelusuri gender dari sebuah naskah film. Dasar dibuatnya alat ini adalah karena Jessica menangkap ketimpangan, tokoh dan percakapan dalam film animasi ternyata didominasi lelaki.

“From fish to toys, to cars, to all sources of things you might not normally assume have to gender. When we are watching them its very obvious that they do,” katanya. Benar juga ya….

Berkat alat yang dibuatnya, Jessica berhasil membuat sutradara film Cars 3 mengubah beberapa tokoh yang tadinya laki-laki menjadi perempuan. Bravo!

Inclusivity, semua orang mempunyai kesempatan yang sama

IWD boleh berbangga bahwa gaung gerakannya mendunia, menuai dukungan, bahkan dari kaum laki-laki. Kemajuan informasi pun menampilkan banyak contoh hadirnya kesempatan berdiri sejajar yang terbuka bagi wanita maupun laki-laki.

Kenyataannya, kesetaraan seharusnya melingkupi semua lapisan sosial. Berbicara kesetaraan tidak lagi berhenti di konteks gender belaka.

Tetangga sebelah rumah saya sedang bingung mencari sekolah yang tepat untuk anak laki-lakinya. Adi, anak itu, berumur 9 tahun, menyandang autisme. Meski berkebutuhan khusus, namun berkat didikan orang tuanya dan juga sekolah-sekolah yang dia ikuti sebelum ini, Adi dinilai mampu masuk sekolah umum.

Apa daya, kelas inklusi masih sangat jarang. Bahkan di Jabodetabek saja jumlahnya tak lebih dari 35 sekolah, dan tak ada yang dekat di lingkungan kami. Kondisi pandemi juga membuat kelas inklusi semakin sulit diselenggarakan. Akhirnya, Adi kembali ke Sekolah Luar Biasa.

We can all choose to challenge and call out gender bias and inequality. We can all choose to seek out and celebrate women’s achievements. Collectively, we can all help create an inclusive world.” Demikian yang saya baca di laman IWD.

Diskriminasi dan intoleransi adalah “musuh” dunia inklusif. Saya setuju. Kita harus belajar banyak berempati kepada sesama. Karena sejatinya kita semua setara. Dunia ideal adalah yang masyarakatnya memiliki kesetaraan akses pendidikan dan kesetaraan akses kesehatan. Semua orang punya hak yang sama. Hanya seringkali, lingkungan tidak siap mewujudkan kesetaraan itu.

Bagaimana dengan di dunia kerja? Saat ini, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas mulai banyak. Secara terbuka, perusahaan juga sudah mulai menerapkan keberagaman, dengan mengedepankan kompetensi, tanpa melihat identitas ras atau agama. Tentu upaya ini dalam rangka menciptakan suasana tempat semua orang dihargai dan dihormati serta memiliki akses ke peluang yang sama.

Saya boleh bersyukur bahwa di B/NDL Studios, semua karyawan setara. Kami punya kebebasan yang sama untuk menjadi lebih maju. Semua bisa berpendapat. Setiap orang berkontribusi. Menariknya, justru kesetaraan itulah yang memudahkan kami bekerja sama. Setiap hari semua saling belajar, hingga makin hari pasti merasa makin pintar.

Kuncinya adalah empati

Inclusive world saya rasa bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga. Buat saya pribadi, saya sangat bahagia melihat suami memiliki pekerjaan yang baik dan saat ini sedang menyelesaikan program magister. Saya tahu ia mengincar sekolah doktoral di luar negeri, sebagai bekal menjadi dosen. Rencana yang bagus. Lalu saya bagaimana? Tentu saya pun ingin punya kesempatan mengembangkan diri menjadi lebih dari saya yang sekarang. Tapi, jika kami berdua sibuk bekerja dan sekolah, siapa yang mengawasi perkembangan anak? Di titik ini, mungkin saya harus menyimpan dulu keinginan saya sekolah lagi. Tapi alasannya tentu bukan karena suami saya tidak percaya kesetaraan gender.

“Kok kamu mengizinkan saya bekerja kantoran?” rasa penasaran tidak bisa menahan saya bertanya pada suami.

“Kenapa nggak boleh? Bekerja itu menambah kemampuan. Dan yang penting, kamu senang melakukannya.” Suami menatap saya, dahinya mengerut. “Buat saya, penting punya istri yang bekerja, supaya tahu pusingnya di kantor… biar tahu rasa… hahahaha….”

“Idiiiiihh….”

Nonojust kidding. Kamu bekerja, mengembangkan diri, karena sudah seharusnya begitu. Masing-masing dari kita punya kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bekerja dan kembali ke sekolah adalah cara kita menambah pengalaman,” katanya.

“Iya sih… tapi waktu saya di rumah jadi berkurang…. “

“Ya kan kita bisa bergantian…. Saya pikir, kita harus punya pengalaman yang sama, agar pola pikir kita sejalan. Ketika kita setara, akan lebih mudah bagi kita mengambil keputusan untuk masa depan keluarga,” katanya. Masuk akal.

Dengan bekerja di storytelling agency ini, saya bertemu banyak orang, sekaligus punya kesempatan interaksi dengan klien yang berbeda setiap hari. Saya belajar setiap hari dari pengalaman di luar rumah. Ketika pengalaman itu saya bawa pulang, saya bisa memanfaatkannya, dari hal yang sesederhana meladeni obrolan suami. Kami nyambung. I think I can say that’s an inclusive world of marriage. Kami saling berempati untuk membuat masing-masing pribadi kami memiliki nilai, merasa bernilai, dan punya kesempatan.

Bayangkan jika suami Angela Merkel tidak mengizinkannya berkarier di luar rumah… dunia pasti merasakan iklim kerja sama yang berbeda dengan Jerman. Atau… mungkin saja Jerman saat ini sudah berseteru dengan China dan Rusia. Bisa jadi.

2 Comments

Leave a Comment

  1. Inclusif…. Yess!. Sering kita dengar ungkapan dibalik perempuan hebat ada laki laki hebat, di balik laki hebat ada perempuan hebat. Dibalik staf yg hebat spt di B/NDL studios ada pimpinan yg hebat. Dan biasanya yg hebat hebat itu lahir dari keluarga hebat yg memiliki kebebasan berpendapat, santun dan penuh kehangatan cinta.

Tinggalkan Balasan