Dongeng Anak, Bukan Sekadar Pengantar Tidur untuk Si Kecil

World Storytelling Day / hari dongeng sedunia - Dongeng anak bermanfaat untuk tumbuh kembang anak. Dari dongeng, anak akan belajar banyak hal, antara lain harapan dan keberanian. World Storytelling Day hari dongeng sedunia duniaella dunia ella bndlstudios storytelling agency jakarta bndl studios story telling creative digital marketing agency

Apa yang Anda lakukan setelah selesai bekerja? Kalau saya, langsung mendedikasikan waktu untuk keluarga. Rutinitas sebelum pandemi, pulang kantor artinya menyuapi anak, mengajaknya main, dan membacakan dongeng anak sebelum tidur. Kini, karena pandemi membuat saya sering work from home (WFH), kadang baca dongeng juga dilakukan sebelum anak tidur siang. Ah… the pandemic is not that bad, after all…. saya bersyukur makin punya banyak waktu membaca bersama anak. Sejak anak saya bayi, bahkan sebelum indra penglihatannya sempurna, saya sudah perkenalkan buku dongeng padanya. Saya percaya, dongeng banyak manfaatnya.

Dongeng itu apa sih? Kalau dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh). Sedangkan menurut Encyclopedia Britannica (2015), dongeng adalah cerita yang memiliki unsur dan kejadian luar biasa. Biasanya itu mencakup cerita rakyat populer, seperti Cinderella.

Salah satu dongeng sebelum tidur kesukaan anak saya adalah Little Red Riding Hood. Dongeng ini bercerita tentang anak yang melewati hutan untuk pergi ke rumah neneknya. Di tengah jalan, dia ketemu serigala lapar yang hendak memangsanya. Karena tahu si Tudung Merah akan ke rumah nenek, si serigala mendului dan memakan si nenek. Lalu serigala berdandan menyerupai nenek, mengelabui si Tudung Merah. Singkat cerita, Tudung Merah dan neneknya memang sempat masuk ke dalam perut serigala, tapi lalu diselamatkan oleh penebang kayu yang membelah perut serigala. Rasakan kau, serigala jahat!

Hmm… kalau dipikir-pikir, kok mengerikan ya ceritanya? Masak tentang makan manusia? Dan ada adegan belah perut pula! Serem banget!

Dongeng anak nan gelap

Kalau dipikir-pikir, dongeng anak sebelum tidur banyak yang adegannya seram. Misalnya, cerita Hansel dan Gretel. Masih ingat kan? Mereka berdua “digelonggong” supaya gemuk dan bisa dimakan oleh nenek sihir.

Dongeng pendek lain yang sering saya ceritakan adalah The Three Little Pigs, tiga anak babi yang membangun rumah. Babi pertama bikin rumah dari jerami, mudah dan cepat dibuat. Babi kedua rumahnya dari kayu, agak perlu waktu membangunnya. Sedangkan babi ketiga memilih material batu bata yang kokoh tapi memang paling lama selesai prosesnya karena lebih sulit. Lalu datang seekor serigala yang mau menghancurkan rumah-rumah babi tersebut. Ditiup rumah pertama. Ambruk dengan mudah. Rumah kedua, tidak jauh beda nasibnya, rumah roboh setelah beberapa hari. Sang serigala baru gagal ketika merubuhkan rumah batu bata yang dibangun berminggu-minggu lamanya.

Inti cerita: kerja lebih keras (dan mungkin lebih lama) akan menuai hasil yang baik. Namun, cerita berlanjut saat serigala mencoba masuk rumah bata melalui cerobong asap. Ia mati tercemplung kuali berisi air panas. Wah, meski ceritanya happy ending untuk para babi, tapi cara mematikan serigalanya kok seram juga….

Sejarah dongeng sebetulnya bagaimana?

Dongeng sudah bersama kita sejak lama. Dongeng pertama yang pernah ditulis adalah Neapolitan for “The Tale of Tales, or Entertainment for Little Ones” di awal abad ke-17. Penulisnya adalah Giambattista Basile.

Giambattista pula yang tercatat menulis dongeng Cinderella, meski ada sumber yang menyebut kisah ini muncul lebih dulu di China dan Yunani. Khas dongeng yang diceritakan kembali, beberapa cerita klasik dimunculkan berulang. Fakta uniknya, versi awal Rapunzel, Little Red Riding Hood, dan Cinderella lebih banyak mengandung unsur kekerasan dan seksual daripada versi-versi terkini. Misalnya, garapan Brothers Grimm menuliskan saudara tiri Cinderella dipaksa oleh ibunya untuk memotong jari kaki mereka agar muat ke dalam sepatu kaca. Aduh… masak iya mau menceritakan hal seperti itu pada anak-anak? Makanya, dongeng-dongeng versi terbaru dikemas lebih ramah.

Rupanya, dongeng-dongeng yang ceritanya lebih cocok untuk film slasher ini memang awalnya bukan konsumsi anak-anak, tapi untuk hiburan para orang dewasa saat anaknya sudah tidur. Pantas sadis!

Ketika Grimms mempublikasikan edisi pertama Nursery and Household Tales di tahun 1812 dan 1815, mereka menujukan cerita dalam buku untuk orang dewasa. Namun, penjualannya tidak memuaskan, hingga akhirnya level “kengerian” diturunkan agar ceritanya bisa dibaca anak-anak. Meski demikian, hal-hal mengerikan tidak dihilangkan seluruhnya, dengan harapan bisa mengajarkan pada anak-anak konsekuensi dari perbuatan jahat.

Dongeng anak yang banyak manfaatnya

Sebenernya, perlu tidak kita menceritakan dongeng beradegan mengerikan untuk anak-anak kita?

Menurut Sheila Kohler, penulis dan pengajar di Princeton University, dongeng-dongeng dengan adegan kekerasan perlu—bahkan penting—untuk diceritakan. Tidak ada area abu-abu di dalam dongeng. Perbedaan kebaikan dan kejahatan jelas terlihat. Hitam dan putih. Selain itu, kejahatan-kejahatan di dalam dongeng selalu dibuat sebagai pelengkap kisah yang happy ending.

Bagi anak yang belum pandai mengungkapkan amarah, ia bisa memproyeksikan sifat agresi alaminya untuk melawan tokoh-tokoh jahat di dongeng. Ia boleh benci pada serigala jahat, atau penyihir.

Manfaat dongeng lainnya adalah memberi pelajaran tentang harapan. Tokoh yang tadinya lemah tanpa daya, misalnya Cinderella, dapat mengatasi rintangan dan mendapat kemenangan. Anak juga belajar tentang keberanian dari pangeran yang tegar menerobos hutan lebat untuk menyelamatkan putri yang tertidur.

Psikolog Bruno Bettelheim bependapat bahwa dongeng memberi anak-anak kesempatan untuk memahami konflik batin yang mereka alami dalam fase-fase perkembangan spiritual dan intelektual mereka, dan menyelesaikan konflik-konflik tersebut dalam imajinasi mereka.

Bettelheim juga berpendapat bahwa cerita-cerita “kejam” ini membantu anak menghadapi kesulitan-kesulitan saat tumbuh dewasa, dan memiliki harapan untuk masa depan yang baik.

Saya menceritakan kebiasaan saya mendongeng ini pada Nia, salah seorang Content Writer di B/NDL Studios, saat kami makan siang bareng. Ternyata ia juga gemar mendongeng untuk anaknya, dan setuju bahwa dongeng banyak manfaatnya. “Kalau diingat-ingat, saat kuliah dulu di jurusan psikologi, saya pernah belajar bahwa secara kognitif, anak jadi belajar menganalisis dan lebih kritis lewat dongeng.  Dia belajar mana perilaku yang boleh ditiru dan mana yang tidak baik. Secara sosial dan emosional, anak belajar norma. Dongeng bisa menjadi stimulus perkembangan bahasa anak. Sudah saya buktikan. Kosa kata anak saya jadi lebih banyak setelah intens dibacakan kumpulan dongeng anak,” ungkap Nia.

Nah, betul. Banyak referensi buku dongeng bagi si kecil, misalnya dongeng anak Indonesia, dongeng anak islami, atau dongeng anak sebelum tidur yang lucu. Buat saya, dongeng-dongeng membuka gerbang ke dunia yang baru, menambah wawasan, dan mempertajam imajinasi. Selain itu, siapa tahu minat baca anak saya jadi meningkat dan bisa sukses macam Warren Buffet yang menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Boleh berharap dong, siapa tahu doa ibu manjur….

Sebentar lagi Hari Dongeng Sedunia. Ayo jadikan ini sebagai momentum untuk ambil buku-buku dongeng anak. Angkat dan dudukkan buah hati di pangkuan, dan ceritakan kisah-kisah dari negeri antah berantah, yuk! Happy reading!

Tinggalkan Balasan