Pemersatu Bangsa Itu Adalah Ratu Dapur Peracik Bumbu Rahasia

Hari ini saya bekerja dari rumah. Jeda sejenak dari back-to-back meetings, saya duduk di sofa. Ah… baru sadar jika hari sudah sore.

Saya buka whatsapp chat, karena tadi salah satu klien menjanjikan akan mengirim materi. Saya lihat beberapa pesan belum terbaca. Dua grup sedang membahas hal yang sama: Nunuk Nuraini, peracik bumbu Indomie yang tutup usia Januari lalu.

Penasaran, saya cari berita tentang perempuan 59 tahun tersebut. Oh… Nunuk adalah sosok di balik varian rasa mie instan Indomie. Wah… saya baru tahu.

Peracik bumbu Indomie yang mengharumkan nama Indonesia

Nunuk Nuraini adalah lulusan Jurusan Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran. Selama lebih dari 25 tahun, ia bekerja sebagai Flavor Development Manager di PT Indofood CBP Sukses Makmur. Artinya, dialah yang selama ini bertanggung jawab sebagai peracik bumbu Indomie. Highlight hidupnya adalah berhasil membuat kita akrab dengan aneka varian rasa mie instan. Lebih jauh, jasanya menampilkan cita rasa Indonesia sukses membuat nama Indonesia mendunia. Bahkan, Thomas Partey, gelandang Arsenal, mengakui dia tergila-gila pada mie instan Indomie.

Indomie seleraku … dari rasa, selera, hingga cerita

Siapa tidak kenal jingle Indomie? Bisa dipastikan potongan lagu Indomie… seleeerakuuuu… sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Diciptakan oleh A. Riyanto sekitar tahun 1980an, semua orang seperti sepakat bahwa ini memang jingle yang tepat. Dengan percaya diri, Indomie menyatakan produknya adalah selera Indonesia. Dan memang betul. Dari varian Indomie Ayam Bawang, Indomie Kari Ayam, Indomie Rasa Rendang, sensari rasa jadi makin variatif dengan hadirnya Indomie Mi Goreng Aceh, Mi Rasa Cakalang, Mi Rasa Soto Betawi sampai Mi Rasa Soto Banjar. Kurang apa lagi? Tak hanya memanjakan lidah, mie instan ini juga memperkaya pengetahuan kita tentang ragam kuliner asli Indonesia! Indomie seleraku… memang benar adanya.

So this is how storytelling works

Bekerja di B/NDL Studios, saya tak bisa tidak mengaitkan Indomie dengan konsep bercerita. Cerita memang menjadi kata magis untuk strategi pemasaran. Setiap orang pasti punya cerita. Setiap merek memiliki cerita sendiri-sendiri di baliknya. Bagi Indomie, brand story yang diusung adalah kedekatan selera rasa yang dimiliki oleh orang Indonesia. Brand story ini terus-menerus digali menjadi ragam cerita yang tak pernah berhenti. Inilah kekuatan persuasif produknya.

Sekitar tahun 2011, Indomie mengajak konsumennya berbagi pengalaman tentang Indomie lewat campaign Cerita Indomiemu. Di sini, cerita digunakan sebagai bentuk brand engagement. Kesempatan berbagi cerita, membuat konsumen merasa “diperhatikan” yang kemudian berujung pada loyalitas. Sungguh suatu curhat yang bermanfaat.

Indomie melebarkan sayap tidak hanya di Asia Tenggara saja, tetapi hingga ke Australia, Afrika, bahkan Amerika. Pengembangan bisnis yang sangat berhasil tidak hanya dibuktikan dari angka penjualan, tapi juga ketenaran. Dalam daftar L.A. Times Instant Ramen Power Rankings yang dibuat oleh Los Angeles Times, posisi Indomie Barbeque Chicken adalah teratas dari 31 mie instan terenak. Di Nigeria, Afrika Barat, Indomie bahkan dijadikan makanan pokok. Merek tersebut menjadi top of mind, sebagai mie instan pertama yang hadir di Nigeria. Apa pun merek mie instan lain yang ada, pasti akan disebut sebagai Indomie.

Dengan aneka ragam cerita menarik di seputar mie instan buatan Indonesia itu, saya rasa, jika ingin memahami konsep storytelling yang pas, Indomie bisa dibedah menjadi contoh yang luar biasa.

Jika ingin memahami konsep storytelling yang pas, Indomie bisa dibedah menjadi contoh yang luar biasa. Bagai ada daya magis, panca indera kita diberi asupan lengkap oleh satu merek saja. Hanya melihat bungkusnya, otak kita bisa menggali memori hingga rasa gurih itu terasa di ujung lidah. Lalu, tiba-tiba telinga kita seperti mendengar lagu, Indomie seleraku

Bagai ada daya magis, panca indera kita diberi asupan lengkap oleh satu merek saja. Hanya melihat bungkusnya, otak kita bisa menggali memori hingga rasa gurih itu terasa di ujung lidah. Lalu, tiba-tiba telinga kita seperti mendengar lagu, Indomie… seleeerakuuuu…. #yousingyoulose

Saya jadi ingat bahwa semangkuk Indomie kuah hangat pernah berhasil menghentikan debat kusir yang nampak sulit berakhir. Saat itu dua kawan sedang adu suara tentang pilkada. Obrolan yang tadinya ringan dan lucu, mendadak naik tensinya. Huh… jadi nggak lucu lagi. Saya yang malas mendengarkan orang ribut, memilih masuk dapur dan memasak sebungkus Indomie Ayam Bawang. Mencium aroma lezat dari panci saya, dua orang yang sedang tarik urat itu tiba-tiba berhenti bercakap, lalu kompak berteriak, “Ella… mau juga doooongg….”

Ah… Indomie memang bisa mempersatukan semua. Semakin menegaskan slogan Indomie seleraku.

Obat kangen saat jauh dari rumah? Ya Indomie ….

Dua bulan lalu, saya menemani sahabat saya, Arzia, yang hendak melanjutkan sekolah di Denmark. Saya bantu ia packing.  Percaya atau tidak, salah satu kopernya dipenuhi Indomie aneka varian rasa. Indomie goreng dan Indomie kuah lengkap semua, persis seperti pemandangan gerai di warung.

“Arz, itu serius koper kamu penuhi mie instan begitu?” Saya tidak bisa menyembunyikan geli.

“Yes! Saya pasti kangen Indonesia. Ini pelipur laranya,” jawabnya sambil berusaha memadatkan koper tanpa membuat mie instannya remuk redam.

“Memang di sana nggak ada yang jual ya? Beli online, gitu…. ”

“Rasanya beda. Yang dari Indonesia lebih lezat, meskipun ukurannya lebih kecil.”

Waktu itu saya hanya manggut-manggut, tapi sekarang satu cerita lagi tentang merek ini tergambar di kepala. Saya bayangkan ribuan orang Indonesia di luar negeri, blusukan mencari mie instan di toko kelontong (biasanya di Chinatown). Dan pilihan mereka pasti Indomie. Jika ditelisik, penjualan daring Indomie di luar negeri pasti angkanya juga menarik. Saya bayangkan juga rasa bahagia para mahasiswa Indonesia di luar negeri ketika menikmati semangkuk mie hangat. Bukan sekadar pengganjal perut, Indomie adalah kelezatan yang membawa hatinya mendekat ke keluarga yang berjarak ribuan kilometer. Mengagumkan betapa makanan bisa menjadi penawar rindu. Food will never break your heart, indeed.

Mari berterima kasih pada almarhumah Nunuk, peracik bumbu Indomie, yang berjasa mengemas cita rasa Indonesia dalam sebungkus mie instan. Mungkin Nunuk pun tak pernah menyangka bahwa hasil karyanya menelurkan banyak sekali cerita dalam hidup kita. Yang jelas, memang benar adanya bahwa Indomie seleraku.

4 Comments

Leave a Comment

  1. Thank you kepada peracik indomie yang selalu berhasil membuat kenyang saat malam hari tiba ;p dan ella yang bikin saya lapar.. buru2 cari mie di dapur..

  2. Tks ella, lengkap sekali ttg indomie. Setuju indomie pemersatu bangsa dari sabang smp merauke (sambil nyanyi)….. Hhhm… Laper ah jdnya

Tinggalkan Balasan